ANTARA DERITA DAN NIKMAT


Namaku Lingga, aku berusia 46 tahun, 15 tahun lalu aku dinikahi dengan James, 43 tahun. Pernikahanku hingga kini belum dikaruniai anak, namun kehidupan ke bersama suamiku sangat bahagia. Hari ini James dinas keluar kota selama satu minggu. Aku baru kembali dari sebuah mall, berbelanja dan makan siang dengan teman-temanku, tiba dirumah pukul 15.00 menjelang sore, letih sekali rasanya, tanpa sempat mengganti pakaianku dan melepas sepatu aku menyalakan televisi, lalu bersantai di sofa ruang tamuku sambil menonton TV, kelihatannya aku terlelap.

Aku tersadar dari tidurku, aku membuka mataku, namun pandanganku gelap, aku mencoba menggerakkan tubuhku entah mengapa tidak dapat digerakkan, tanganku terasa kesemutan yang hebat, lemas dan tak dapat ku gerakkan, ketika aku berteriak “TOLOONNGG,….!!” maka
“eeemmmmppphhhhh…….!!” mulutku terasa penuh dan suara yang kuinginkan tidak keluar.

Aku mulai mencoba menggerakkan tanganku tidak bisa! Ternyata tanganku terikat erat di belakang di pinggangku, aku berusaha bangkit dan kusadari kakiku masih bersepatu dan ternyata terikat erat pula, dengan kondisi yang gelap tidak dapat melihat, aku mulai panik dan meronta-ronta. Rupanya, selain tangan dan kaki yang terikat erat, mulutku terasa disumpal karena mulutku serasa penuh entah dengan kain atau apa. Pemandangan gelapku karena mataku diikat dengan secarik kain. Oh keadaanku sungguh tidak berdaya, apa yang terjadi denganku saat ini? Satu-satunya inderaku yang masih berfungsi adalah telingaku, namun tidak lagi kudengar suara televisi, tetapi hening, sunyi. Entah di mana kini aku berada?

Satu jam, dua jam rasanya aku terdiam dalam keadaan tidak berdaya. Aku merasa kakiku masih bersepatu. Sepatu yang tadi aku pakai jalan-jalan dengan temanku, sepatu putihku yang baru kubeli tadi dan langsung kupakai, ada bannya melintas di punggung kakiku seolah menghubungkan kedua mata kakiku. Kemudian kurasakan tubuhku terangkat, rupanya tubuhku dibopong di pundak seseorang, lalu kurasakan dia membuka pintu mobil, aku didorongnya masuk. Aku dibaringkan telungkup di bawah, terjepit diantara jok.. Lalu kurasakan mobil melaju kencang sampai cukup lama aku tidak tahu akan dibawa kemana. Mataku tertutup, mulutku tersumpal, tangan kakiku terikat lengkap sudah penderitaan dan ketidak berdayaanku juga terbaring di lantai sebuah mobil besar. Perasaan takut, marah, sedih semua bercampur satu hal saat menyadari keadaan diriku. Yang aku tahu saat ini adalah aku diculik!

Mobil akhirnya berhenti entah dimana. Orang itu membuka pintu & turun sementara mesin tetap menyala ketakutanku semakin menjadi. Tak lama kemudian orang itu kembali masuk mobil & menjalankannya lagi, perjalanan itupun berlanjut dan terasa panjang lalu kurasakan mobil itu berhenti, aku dibopong keluar mobil cara menarikku keluarpun lebih lembut, berbeda dengan waktu aku dimasukan mobil tadi aku didorong kasar aku sehingga merasakan orang yang berbeda. Seketika udara dingin menyergap tubuhku di udara pegunungan, aku bisa pastikan aku di daerah pegunungan. Aku dibopongnya kesebuah ruangan/rumah aku tidak tahu, hanya saja udara lebih hangat sekarang. Dalam keadaan tubuhku terikat erat, aku direbahkan di kasur kurasakan orang itu pergi keluar.

Terlalu lama rasanya menunggu dalam ketidak berdayaan, keadaanku yang terlentang di sebuah tempat tidur yang berdesign klasik, dengan tangan yang ditelikung di belakang dan terikat erat, kaki yang terikat menyatu, mataku yang ditutup kain hitam rupanya, dan mulutku yang tersumpal, aku sibuk berusaha meronta-ronta, mencoba melepaskan tali-tali yang mengikat pergelangan tanganku, namun sepertinya kebanyakan usaha meronta-ronta seperti ini sangat jarang yang berhasil jadi kuputuskan beristirahat, menerima keadaanku saat ini dan tidur, karena hanya itu yang bisa aku lakukan.

Rasanya lama sekali aku tertidur, karena aku rasa hari sudah senja. Aku tidak tahu apa yang menjadi motif penculikanku, tidak ada suara-suara atau tanda-tanda kehidupan di tempatku terbaring. Dengan mata yang ditutup kain, aku bisa merasakan penerangan di ruangan ini adalah sebatas lampu tidur. Keadaanku masih belum berubah, terlentang dan terikat. Aku mencoba membalikkan tubuhku dan memilih telungkup, guna meringankan derita yang kurasakan di pergelangan tanganku yang terikat dan tertindih oleh tubuhku sendiri. Keadaan ini melegakan tanganku yang terikat kebelakang, tetapi kendala lain membuat aku susah bernafas, karena hidungku seperti tertutup, dalam keadaan telungkup. Tidak sampai 10 menit, aku mengambil posisi menghadap samping, sambil sedikit menekukkan lutut yang juga terikat… oh inilah posisi ternyaman di tengah-tengah ketidak nyamanan akibat ketidak berdayaanku. Tidak ada yang bisa aku lakukan dalam keadaan terikat erat seperti ini, pilihan terbaik dalam posisi lumayan nyaman dengan menghadap samping, adalah tidur. Aku sempat terbangun sejenak, ketika terdengar sayup-sayup adzan subuh yang menggema,
“hmm….. sudah subuh rupanya!?” pikirku dalam kantuk yang masih menyelimutiku
Aku tak mengerti mengapa aku jadi lebih sering tertidur begini, kecurigaanku adalah ketika aku tertidur dirumahku kelihatannya penculik berhasil membiusku, karena biasanya aku tidak pernah bisa tidur senyenyak ini, dan ketika aku bangun tadi aku merasakan tubuhku sudah terikat, rasanya mustahil mereka bisa mengikatku dalam keadaan tidur, jika tidak terlebih dahulu membiusku. Dan kini efeknya aku selalu merasa kantuk yang setia menemaniku dalam kesendirian dan ketidak berdayaan, lagi lagi karena masih subuh, aku tertidur. Didalam tidurku kurasakan diriku dalam keadaan terbaring, dan aku masih menggunakan sepatuku yang memakai hak tingginya 5 cm. Mataku masih ditutup oleh sebuah kain, aku meronta-ronta, berusaha untuk melepaskan diri. Kira-kira sejam aku terkapar tak berdaya dalam keadaan gelap dan mata yang tertutup, tanganku tidak lagi terikat dibelakang pinggang tetapi dalam keadaan terikat diatas kepalaku. Ku rasakan tali-tali yang mengikat di lututku mulai terlepas, baik yang di atas maupun yang di bawah lutut. Tubuhku sudah tidak meronta-ronta karena lemasnya lalu ku rasakan pergelangan kakiku tidak lagi menyatu. Terbuka lebar, namun aku tidak merasakan kebebasan gerak di kakiku karena ternyata masih terikat walau kakiku sudah terbuka.
“mmmmppphhhhh……!!” kurasakan ada yang masuk paksa ke liang vaginaku. “auwww…!!” jerit batinku mencoba menahan sakit akibat pemaksaan itu. Selanjutnya, yang kurasakan adalah sebuah hubungan seksual. Aku diculik dan diperkosa! Hati dan jiwaku terus menolak pikiranku menerawang dan bayangan suamiku muncul, “Oh Bang James,…! Tolong aku, bukan kehendakku, aku diculik dan diperkosa Bang…”
Selanjutnya kurasakan ada tangan yang meraba celana dalamku. Tangan itu mengelus daerah klitorisku sementara satu tangan yang lain mengelus pangkal pahaku. Seketika aku menggelinjang gelinjang dan meronta ronta, keluar suara suara tak beraturan dari mulutku yang tersumpal. Orang itu membiarkan aku meronta-ronta dan tampaknya tak peduli kedua tangannya terus bergerilya di daerah kemaluanku yang masih tertutup celana dalam.

Tak sadar keluar lenguhan dari mulutku yang tersumpal dalam keadaan lelah, takut dan marah akupun lelah untuk meronta-ronta hebat lagi. Sebaliknya perlahan lahan kurasakan ada suatu gairah kenikmatan tenpa sungkan menjalar ke seluruh bagian tubuhku bahkan aku menggoyang goyangkan daerah kemaluanku. Tampaknya orang yang menculikku tahu kalau aku mulai terangsang, selanjutnya di masukan tangannya ke balik celana dalamku dan klitorisku di pilinnya de ngan lembut. Aku semakin menggelinjang hebat, antara geli, nikmat dan derita.
“mmmmppphhhh………eemmmmppphhhh…….” tanpa sadar aku melenguh di balik sumpalanku
Kemudian kurasakan celana dalamku disingkap dan kurasakan ada mulut yang mengulum-ngulum klitorisku.
“eemmmmppphhhh……. mmmmppphhhh………….!!”
Penisnya terus di kocok kocokkan ke liang vaginaku dengan kocokan yang berirama, pelan pelan kemudian kencang dan dalam kembali pelan pelan lagi kencang lagi dst. Sambil mengocok ocok, kedua tangannya juga dislusupkan ke balik braku,..
“aarrghhh…….” batinku pasrah tak berdaya. Hening, ketika semua perbuatan keji itu terjadi, sungguh suatu hal yang langka, hubungan seks dilakukan tanpa suara dan tanpa lenguhan, selain karena mulutku tersumpal dan hanya bisa mengeluarkan suara
“eemmmmppphhhh……. mmmmppphhhh………….!!”, aku yang terikat erat, mulut disumpal dengan mata yang tertutup, sama sekali tidak bisa mengenali siapa pelaku penculikanku dan siapa yang sedang memperkosaku saat ini. “Ugh,….!” kurasakan cairan sperma telah menghujani liang vaginaku, diantara kenikmatan terlarang yang memuncak ini, aku pasrah tak berdaya. Tubuhku terasa lemas usai diperkosa, dan terkapar tak berdaya dengan tangan terikat ke tempat tidur, demikian kakiku yang terikat juga mengangkang di sudut tempat tidur. Aku merasa dibiarkan dalam keadaan tak berdaya, setelah kurasakan pemerkosaku itu tidak ada disekitarku.

*****

Lama sekali rasanya aku ditinggal dalam keadaan begini, namun demikian mataku sudah tidak ditutup lagi sehingga aku bisa melihat dan tahu keadaanku. Namun mulutku ini masih tersumpal, sementara tanganku kini terikat terpisah di atas kepalaku, demikian juga kakiku. Sehingga tubuhku membentuk huruf X tang terbaring di atas tempat tidur, Aku berada di sebuah kamar sederhana dan terbaring di sebuah tempat tidur besi yang di bagian kepalanya terdapat kepala tempat tidur yang berbentuk teralis. Dalam keadaan tidak berdaya, dan lelah sehabis diperkosa oleh pria misterius yang kemungkinan adalah penculikku aku kembali tertidur, karena tidak ada satu gerakanpun yang bisa aku lakukan.

Tiba-tiba aku terbangun, ada pria kekar mengenakan tutup muka, tanpa sepatah kata mendekat ke wajahku….
“ugh,… mau diapakan lagi aku……!??” batinku. Lalu mengangkat sedikit kepalaku dan dengan sigap kembali mengikatkan kain di mataku dan kini mataku tak dapat melihat lagi. Setelah mataku tertutup, beberapa saat lamanya aku di biarkan begitu dan kurasakan ikatan di mulutku di lepaskan sebagai gantinya mulutku di masukan penis pria itu. Rupanya pria itu memaksaku untuk memuaskan dirinya dengan menghisap penisnya. Pada mulanya aku merasa jijik dan geli, tapi karena terpaksa akhirnya aku mulai menghisap penis pria itu. Dengan mata yang tertutup aku hanya merasakan bau amis dan anyir tapi karena takut akhirnya kuhisap juga penis pria itu. Dan tanpa sadar aku mulai menikmati menghisap penis pria itu. Bahkan aku mulai menjilati kepala penis dan buah zakar pria tersebut seperti biasa aku melakukannya pada suamiku. Rupanya aku mulai terangsang makanya aku bias dengan mudahnya memuaskan pria itu. Rupanya pria itu mulai merasakan kalau aku terangsang . Penis itu kurasakan keluar masuk dalam mulutku yang mungil, kadang cepat kadang lambat bahkan kadang sampai terasa ke pangkal tenggorokanku. Tapi tiba tiba aku merasakan putingku di pasang jepitan jemuran baju.Aku yang sedang terasang hebat tiba tiba merasa sakit di putingku namun apa daya mulutku sedang di sumpal penis pria itu. Sampai akhirnya pria itu terpuaskan dan mengeluarkan cairan spermanya dalam mulutku dan sebagian aku telan.

Belum selesai kelelahanku mulutku memuaskan penis pria itu mulutku kembali diikat kembali dengan scraft milikku sendiri.
“mmmmppphhhhhh…….!!! keluhku, kurasakan celana dalamku diturunkan sampai ke atas paha lalu kurasakan “oowhh…..!! batinku, vaginaku disisipkan benda yang kurasakan berbentuk lonjong, rasa nyeri perlahan lahan membelengguku, lalu kurasakan getaran di vaginaku, rasa geli seperti menyiramiku dalam ketidak berdayaan dan membangkitkan gairah kenikmatan, membuat aku merasakan derita dan nikmat yang kini membelengguku. Getaran itu semakin membuat tubuhku lemas akibat libido yang sudah terpancing. Lalu kurasakan, tali yang mengikat di kakiku dilepas oleh sang penculik, kesempatanku meronta dan menendang-nendang, namun tubuh yang lemas, membuat kakiku tak bertenaga dan dengan mudahnya pergelangan kakiku sudah terikat menjadi satu. Maka huruf X ditempat tidur menjadi huruf Y. Kemudian kurasakan suntikan yang telah menusuk di lengan kananku dan akupun tidak sadarkan diri.

*****

Ketika aku siuman, aku mendapati diriku sedang tidak terbaring, namun terkapar dengan tubuh yang menyamping, akibat kedua tanganku kembali diikat kebelakang, di lingkaran pinggangku. Pergelangan kakiku kurasakan masih ada tali-tali yang melilit dan kurasakan kakiku masih terikat satu. Vaginaku sudah lelah dengan barang yang tadi bergetar dan belakangan kuketahui itu adalah dildo. Lalu ikatan di mataku dilepas oleh penculikku yang tentu saja sudah memakai penutup wajah. Ternyata kini aku disekap di sebuah sel dengan penerangan minim.
“mmmmppphhhhh……! eemmmppphhhhhh……!!!” jeritku ketika penculik itu keluar dari sel dan mengunci pintunya dengan lilitan rantai dan gembok. Sel ini cukup luas, setidaknya seluas ¾ kamar tidurku dengan suamiku James, dan hanya ‘dihuni’ oleh aku. Aku melihat tubuhku masih berbusana lengkap seperti ketika aku diculik, memakai blus warna krem berbaur dengan warna hijau luntur tidak berkerah dengan kancing warna keemasan yang berbaris rapih dari leher sampai ke pusar dengan rok hitam 10 cm diatas lutut, dan masih bersepatu putih model pantofel yang ada ban yang melintas di punggung kakiku, yang baru kubeli sebelum aku diculik.

Mulutku masih tersumpal dan terikat kain di tengkukku, dengan tali-tali yang mengikat di lingkar dadaku. Sungguh aku merasakan ketidak berdayaan yang sangat, disekap dalam sel yang terkunci dan dalam keadaan terikat erat. Rasanya sudah 3 hari aku disekap dalam sel ini, tanpa terjamahkan oleh siapapun, terbukti dari rasa dahaga dan lapar yang menambah deritaku kini. Di balik rasa dahaga dan lapar, tanganku juga terasa sangat pegal dan mati rasa akibat ditelikung ke belakang dan terikat berjam jam.
Aku tidak sedang menunggu apa-apa tetapi kenapa memang rasanya aku menunggu, dalam keadaan terikat seperti ini tentunya kebebasan yang aku tunggu. Aku menunggu kapan tali-tali yang melilit dan mengikat tubuhku ini dilepaskan, dan aku dibebaskan dan diantar pulang ke rumahku. Namun diriku di sini, dalam sebuah sel yang luas dan besar dengan tanganku yang terikat dibelakang, kaki yang terikat menyatu bagai Putri Duyung,… mulut yang disumpal, rasanya penghinaan melihat diriku dikurung dalam sel lalu terikat lagi. Dengan keadaan terikat saja, aku sudah tak berdaya, lalu aku dikurung dalam sel ini, sungguh kurasakan suatu penghinaan.”Cepreett!!” lamunanku buyar ketika lampu blitz menghujamku. Pria yang berpenutup kepala itu mengambil photoku dalam keadaan terikat di dalam sel. Aku keberatan, tapi apa daya!? Lalu dia masuk ke dalam sel tempatku di sekap, serta merta mengeluarkan kain dari sakunya, menutup mataku dan mengikatnya kencang di belakang kepalaku, kembali pandanganku menjadi gelap dalam ketidak berdayaanku. Dia kemudian meninggalkanku setelah kudengar langkah sepatu yang menjauh dariku dan suara rantai dan gembok yang mengunci. Kini lengkaplah ketidak berdayaanku, tangan dan kaki terikat erat, mulut disumpal dan mata yang tertutup. Hanya telinga, satu-satunya indera yang bisa kuandalkan mengetahui keberadaanku.

Beberapa jam kemudian, kudengar kunci gembok di buka dan ada yang masuk, lalu kurasakan tubuhku di bopong di pundak seseorang,… mengangkat tubuhku, melangkah menaiki tangga dan terus berjalan sampai akhirnya kurasa tiba di suatu ruangan, dan aku merasa tubuhku diturunkan pelan-pelan disebuah tempat tidur rupanya. Beberapa saat aku merasa dibiarkan terkapar tak berdaya, namun aku merasa tidak sedang sendirian terikat dalam ruangan itu…. ku rasakan ada nafas-nafas tertahan di sekelilingku, namun tidak ada yang dilakukan. Jika dugaanku benar setidaknya ada 2 orang atau lebih diruangan ini,… Entah mengapa sejak mataku ditutup, disisi lain indra pendengaranku menjadi semakin peka dan naluri dan sesitifitasku menajam, setelah kurang lebih seminggu (?) aku terikat dan disekap begini. Mereka kurasa hanya bulak-balik masuk keluar kamar misterius, perlahan-lahan rasa takut mulai membelengguku….
“mau apa mereka mengerubungiku……” batinku bertanya-tanya. Tak lama kurasakan kakiku yang bersepatu dan terikat jadi satu itu dilepaskan, aku meronta-ronta ingin menendang mereka yang aku rasa tengah mengerubungiku, namun cekraman yang kuat di pergelangan kakiku hanya membuahkan gerakan kecil yang tidak berarti, pada saat bersamaan betis dan pergelangan kaki kananku sudah merapat ke pahaku dan kurasakan tali-tali yang masih melilit di pergelangan kakiku menyatu dengan pahaku dan aku seperti dalam keadaan berlutut namun betisku diikatkan pada pahaku, demikian juga terjadi pada kaki kiriku. Dalam keadaan yang sama sekali tidak nyaman aku meronta dan
“EEMMMMPPPHHHHHH…………..!!!” teriakku memberontak dan satu pukulan keras menghantam pipiku dan aku tak sadarkan diri.
Rasa sakitlah yang membangunkanku, kurasa benda tumpul memasuki vaginaku oh itu adalah penis yang menerobos paksa membuatku sadar dan kembali berteriak
“EEMMMMPPPHHHHHH…………..!!!” menyambut masuknya penis ke dalam lubang vaginaku
masuk….keluar…..masuk…..keluar…..masuk mengocok-ngocok tubuh tak berdaya ini dibuatnya.
Tubuhku terangkat dan tidak lagi terbaring; dalam keadaan tanganku yang mati rasa aku dipeluk dari depan dan belakang lalu rasa nyeri yang amat sangat akibat terobosan paksa penis lain yang menerobos di liang anusku yang kecil
“EEMMMMPPPHHHHHH…………..!!!”jerit sakitku ketika penis itu berhasil menerobos dan masuk ke lubang anusku. Kembali tubuhku bak boneka yang digoyang-goyangkan bergantian dengan penis yang masuk di anusku sementara bersamaan penis lain sedang menarik keluar dari liang vaginaku. Kemudian aku rasakan puting payudaraku dikulum oleh sebuah bibir dan membuat cupang di payudaraku. Jika saja mata ini bisa melihat, aku pasti akan mendapati payudaraku penuh tanda tanda merah karenanya, sementara aku merasakan ada sinar flash kamera yang menghujani diriku, rupanya aku di photo dalan keadaan diikat dan diperkosa oleh 4 (empat) orang!

Aku tidak tahu berapa lama sudah aku disiksa seperti ini, tanganku sudah mati rasa terikat ke belakang, dan mulutku kering karena tersumbat sedemikian lama, dan mataku yang terus terpejam akibat terikat erat di kepala belakang dan tubuh yang bergoncang-goncang seperti boneka tak berdaya menjadi bulan-bulanan para pemerkosa itu bergantian, Lelah disekujur tubuhku dan aku tak sadarkan diri.

Kelihatannya lama baru aku siuman dan mendapatkan diriku masih didalam ruangan yang sama dengan keadaan tubuh yang tidak berbeda, tanganku masih terikat erat di belakang, kakiku masih menekuk seperti berlutut dengan lilitan tali yang erat kurasakan di pergelangan kakiku dan di pangkal pahaku. Praktis aku hanya bisa tertidur terlentang dengan tubuh yang menimpa tanganku yang terikat erat.
Hari telah berganti karena kudengar sayup sayup suara kumandang adzan subuh memecah keheningan pagi buta itu. Tubuhku yang terikat ini terasa menggigil menyambut udara pagi di mana aku masih terikat, mata dan mulutkupun terikat hingga tidak ada pergerakan yang bisa aku lakukan, hanya menanti dan menanti. Menanti kebebasanku yang sebelumnya pernah kumiliki.

Dalam lamunanku tiba-tiba aku kembali dikejutkan dengan vaginaku yang kembali disisipkan benda yang kurasakan berbentuk lonjong, rasa nyeri perlahan lahan membelengguku, lalu kurasakan getaran di vaginaku, rasa geli seperti menyiramiku dalam ketidak berdayaan dan membangkitkan gairah kenikmatan. Getaran itu semakin membuat tubuhku lemas akibat libido yang sudah terpancing. Ini sungguh menyiksaku dengan keadaan tidak berdaya seperti ini rangsangan hebat diberikan oleh benda mati seperti ini yang diselipkan kedalam liang vaginaku oohh…!

Beberapa jam lamanya aku tersiksa, kini aku terbaring lemas tak berdaya akibat siksaan yang ku dapatkan dari vibrator ini yang masih menancap di tubuhku namun sudah tidak bergetar lagi.
Dalam keadaan lemas dan terikat tak berdaya kembali aku dikejutkan
“EEMMMMPPPHHHHHH…………..!!!” dengan masuknya kembali sebatang penis ke dalam lubang vaginaku… masuk….keluar…..masuk…..keluar…..masuk mengocok-ngocok tubuh tak berdaya ini dibuatnya. Sementara tubuhku yang relatif mungil terangkat dan dalam keadaan tanganku yang mati rasa aku dipeluk dari depan dan belakang lalu rasa nyeri yang amat sangat akibat terobosan paksa penis lain yang menerobos di liang anusku yang kecil

“EEMMMMPPPHHHHHH…………..!!!”jerit sakitku ketika penis itu berhasil menerobos dan masuk ke lubang anusku. Kembali tubuhku seperti boneka mainan yang digoyang-goyangkan bergantian dengan penis yang masuk di anusku sementara bersamaan penis lain sedang menarik keluar dari liang vaginaku. Kemudian aku rasakan puting payudaraku dikulum oleh sebuah bibir. Aku kembali di photo dalan keadaan diikat dan kembali diperkosa oleh 4 (empat) pria tadi! Usai menjadi bulan-bulanan lalu aku merasakan ikatan yang menutup mataku dilepas.
Perlahan-lahan aku membuka kelopak mataku menyesuaikan diri dengan cahaya yang akan masuk ke kornea mataku, ketika lensa di mataku menemukan fokusnya aku melihat seorang wanita cantik berambut yang panjang terurai, kurus langsing berpakaian warna krem dengan rok selutut dengan dandanan yang cukup tebal dan bibir yang dibalut oleh lipstik merah merona, dadanya menyembul sexy, bersepatu higheel dengan model yang serupa dengan yang kupakai saat ini, mendekat, dekat ke wajahku seolah hendak menciumku,… secara reflek kepala ku bergerak menghindar dan menjauhi wajah cantik yang semakin dekat ke wajahku, tak sengaja kulihat di sekitar dagunya ada bekas cukuran pada wajahnya, dan dari jarak yang semakin mendekat aku melihat jakunnya tersembunyi di balik blusnya yang bermodel serupa kebaya.

“tidaakk……!!” jerit batinku, “dia adalah laki-laki,…. dia adalah waria !!” lalu wanita eh waria itu mencumbu bibirku yang tersumpal,… “urgh! Apakah aku diperkosa oleh waria ini,…?? Betapa hinanya aku karena tubuhku menjadi mangsa dari pria yang berpakaian wanita ini?” sebuah misteri yang tak kunjung kutemukan jawabnya.
Kemudian wanita eh waria itu membopong tubuhku di pundaknya,… berjalan menuruni sebuah tangga dan selanjutnya aku tahu bahwa tubuhku yang terikat erat ini di masukkan kembali ke dalam sel yang menyekapku. Sesampainya aku di dalam sel, mataku kembali ditutup diikat oleh kain dan mulut yang tetap tersumpal dengan kaki yang sudah kembali terikat jadi satu dan terselipkan vibrator di dalam vaginaku, aku kembali di sekap dan kudengar suara pintu sel yang di tutup dikunci dengan rantai dan gembok.

Tinggallah aku sendiri dalam sel yang luas ini, terduduk berlutut dengan vibrator bergetar di vaginaku, aku dalam ketidak berdayaan dengan tangan terikat ke belakang demikian juga kakiku serta mata yang tertutup oleh kain dan mulut yang mengering dan disumpal. Entah sudah berapa hari aku disini, mungkin sudah satu minggu menanti dan menanti bilakah aku memperoleh kebebasan yang sedianya menjadi milikku selama ini, adakah seorang yang menjadi pahlawan hidupku dan membebaskan aku dari siksa derita ini.

T A M A T

One thought on “ANTARA DERITA DAN NIKMAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s