Bondage Photo Session


Kulihat jam tanganku, menunjukkan pukul 7 malam kurang sedikit. Aku buka pintu depan setelah memparkir mobil di depan garasiku. Tidak seperti biasanya lampu ruang tamu masih gelap. Mungkin Tini lupa menyalakan lampu sebelum pulang, pikirku dalam hati. Tini adalah pembantu di rumahku yang bekerja hanya dari pagi sampai sore hari.
Aku meraba-raba dinding untuk menyalakan lampu di ruang tamu karena benar-benar gelap keadaannya. Gorden jendela sudah diturunkan jadi tidak ada cahaya yang bisa masuk ke dalam rumah. Akhirnya lampu menyala. Kukunci pintu depan. Aku melangkah menuju kamarku sambil membuka blazerku, tinggal menyisakan baju putih yang masih kukenakan. Aku masuk ke kamar yang pintunya terbuka separuh, ketika tiba-tiba ada seseorang yang menyergapku dari belakang. Wajahku ditutup dengan kain yang baunya sangat menyengat, entah bau apa. Aku berusaha melawan tapi hanya sia-sia. Entah apa sebabnya tubuhku kemudian terasa lemas, pandanganku kabur dan akhirnya aku tidak merasakan apa-apa lagi.

Aku membuka mataku. Kukejap-kejapkan mataku sambil memandangi sekelilingku. Aku ternyata tertidur di ranjangku, pikirku. Lalu aku merasakan ada sesuatu di mulutku, tepatnya menyumpal mulutku. Aku berusaha mengeluarkannya tapi tidak bisa karena ternyata ada kain yang menahannya. Aku menggerakkan tanganku untuk membantu melepaskan ikatan di mulutku tapi tidak bisa. Aku baru menyadari bahwa kedua tanganku terikat jadi satu di belakang punggungku. Dan akhirnya aku menyadari posisiku saat ini. Kedua tanganku terikat ke belakang, kakiku juga terikat jadi satu dan mulutku disumpal sesuatu, entah apa. Aku meronta-ronta berusaha melepaskan diri tapi ikatan ini terlalu kuat. Aku menenangkan diriku. Kuamati diriku sendiri. Tangan terikat, kaki terikat, mulut disumpal, baju yang kupakai telah terbuka kancingnya, memperlihatkan BH putih yang kupakai. Demikian juga dengan rok bawahan yang tadi kupakai sudah hilang entah kemana, sehingga celana dalam dan stocking terlihat semua. High Heels masih kupakai.
“Gimana… Enak nggak?”
Tiba-tiba kudengar suara seorang lelaki di pojok kamar. Aku tidak menyadari kehadirannya dari tadi karena terlalu sibuk meronta-ronta melepaskan diri.
“Mmmpppphhh!!!!!” Hanya itu suara yang keluar dari mulutku. Aku kembali meronta-ronta berusaha melepaskan diri karena aku menyadari posisi tubuhku saat ini sangat tidak menguntungkan.

“Tidak ada gunanya melepaskan diri Bu… Ikatan itu tidak akan bisa ibu lepaskan sendiri.” Kata pria itu sambil tertawa.
Akhirnya aku menyerah dan terdiam dalam posisi ini.
“Aku sudah lama mengamatimu ibu. Jadi aku tahu kalau ibu suami ibu sedang tugas di luar negeri dan sekarang ibu di rumah sendirian. Jam kerja dan jam pulangmu aku juga tahu. Semua tentangmu aku mengetahuinya.”
Aku berusaha mengangkat kepalaku untuk melihat wajah pria di hadapanku, namun hanya pria bertopi yang kulihat di hadapanku. Dia menyembunyikan wajahnya di balik topi.
“Aku kesini bukan untuk merampok. Beberapa saat lagi kita akan mengadakan beberapa sesi pemotretan dan mungkin aku akan menikmati tubuhmu…”
Aku kembali meronta-ronta berusaha melepaskan diri sambil mendengus-dengus karena hanya itu suara yang bisa aku keluarkan dari mulutku saat ini.
“Anjuranku… ibu jangan melakukan perlawanan karena terjadi suatu hal yang tidak aku inginkan, misalnya ibu bisa melepaskan diri dan mungkin melaporkan aku kepada polisi, maka semua foto yang kuambil pada saat ibu tidak sadarkan diri akan tersebar di internet dan mungkin kolegamu akan melihat tubuhmu dengan pakaian tidak senonoh. Ibu tidak ingin hal itu terjadi kan?” Kata pria itu sambil memperlihatkan gambar-gambarku dalam posisi setengah telanjang dari kameranya.
Aku berteriak, melakukan protes.
“Makanya… Daripada foto-fotomu tersebar luas, lebih baik ibu menuruti semua kemauanku kan?”
Sambil tetap meronta-ronta aku memikirkan kata-kata pria itu.
“Foto-foto ibu akan jadi koleksi pribadiku apabila ibu bisa bekerja sama malam ini. Ok?”
Akhirnya aku diam saja, bukan tanda setuju tapi sepertinya tidak ada pilihan lain.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan melepaskan semua ikatanmu supaya ibu bisa berganti baju-baju yang sudah kupilih dari dalam lemarimu dan kita akan melakukan sesi pemotretan. Ok? Ingat… Kata-kataku barusan bukan hanya omong kosong jadi aku berharap ibu bisa memikirkan apa yang akan ibu lakukan.”
Dia lalu mendudukkanku dan melepaskan ikatan di tangan dan kakiku.
“Tidak perlu ganti baju. Ibu duduk di kursi ini ya…” Katanya sambil menarik kursi yang biasa aku gunakan apabila ada pekerjaan yang aku bawa pulang. Aku duduk di kursi itu. Dia menarik tanganku ke belakang dan mengikatnya kembali. Mulutku masih tertutup. Kemudian kedua kakiku diikat ke kaki kursi, cukup erat karena kakiku tidak dapat kugerakkan sama sekali. Hal berikutnya dia menutup mataku dengan scarf milikku sendiri. Lengkap sudah penderitaanku. Tidak dapat bergerak, tidak dapat berbicara dan tidak dapat melihat. Dia lalu manarik baju yang kukenakan sehingga bra yang kupakai benar-benar terlihat. Kudengar suara blitz menyala, ini tandanya dia mulai mengabadikan diriku dalam keadaan setengah bugil ini. Aku hanya bisa diam saja. Entah apa yang berkecamuk di benakku saat ini. Campur aduk semuanya antara rasa takut, marah, malu dan rasa lainnya.

Berikutnya dengan mata tertutup aku merasakan cahaya blitz berulang ulang rupanya dia mulai memotretku lagi. entah berapa kali dia memotretku dari berbagai sudut.
“Ok, aku rasa pose ini cukup. Silakan ibu ganti baju dengan baju yang sudah kusiapkan. Ada di atas meja itu.” Katanya sambil menunjuk ke arah meja.
Kulihat disana lingerieku yang berwarna putih terbuat dari bahan satin. Dengan berat hati kukenakan lingerie itu.
“Ibu tiduran di ranjang.”
Kuikuti perintahnya. Dia mendekatiku dan mulai menigkat kedua tanganku ke besi ranjang. Demikian juga dengan kedua kakiku, diikat ke kaki ranjang dengan posisi membuka.
“Posisi yang benar-benar menantang…” Pikirku dalam hati. Mulai ada pikiran nakal di benakku.

Dia mulai memotretku lagi dari berbagai posisi. Dan secara tidak sadar aku mulai menikmati perlakuannya kepadaku, terutama dengan ikatan-ikatan yang dilakukannya terhadapku.
Dia meletakkan kamera di meja dan berjalan mendekatiku lalu melepaskan ikatan di mulutku. Lalu dia melepas celananya.

“Puaskan aku…” Katanya kepadaku.
Aku tahu apa yang dia maksud dan membuka mulutku, membiarkan penisnya masuk kedalam mulutku. Melakukan hal yang kadang aku lakukan dengan pasangan semalamku.
Akhirnya dia mencapai puncak dan sungguh kurang ajar, dia mengeluarkan cairan kenikmatannya didalam mulutku. Belum pernah kurasakan sperma muncrat di dalam mulutku. Tapi apa yang bisa kulakukan dalam posisiku yang seperti ini.
Tenang beberapa saat karena pria tersebut duduk di kursi, kelihatannya dia puas karena sudah ‘kukeluarkan’.
Tidak lama dia mulai melepaskan ikatan di tangan dan kakiku tapi langsung mengikatnya lagi seperti posisi semula yaitu tangan di belakang punggung dan kaki jadi satu. Dia juga mengikat mulutku kembali dan menyeretku, sepertinya ke arah kamar mandi. Dia meletakkan tubuhku di lantai kamar mandi. Entah apa yang akan dilakukannya karena mataku yang tertutup ketika tiba-tiba aku merasakan ada cairan hangat yang mengenai wajahku.

Cairan yang aku kenal baunya. Dia mengencingiku!!! Aku meronta-ronta berusaha menghindar dari air kencingnya tapi ternyata sia-sia. Sambil terus mengencingiku dia memaksaku menghisap penisnya kembali, sampai ia terpuaskan dan memaksaku menelan spermanya sekaligus minum air kencingnya. Karena mulutku penuh dengan cairan sperma dan air kencing tanpa sadar kunikmati juga air kencing bercampur sperma itu.
Entah apa yang harus kulakukan saat ini. Pria itu menarikku kembali masuk ke kamar dan melemparkanku ke atas ranjang lagi.
“Ok, kayaknya aku sudah cukup melampiaskan napsuku kepadamu. Makasih semuanya ya… Inget, jangan lapor polisi atau foto-fotomu akan tersebar.” Bisiknya ke telingaku.
Entah apa yang harus kulakukan untuk melepaskan semua ikatan ini. Belum lagi dengan bau pesing yang menyengat. Sungguh sebuah pengalaman yang tidak bisa kulupakan. Tapi di lain sisi, aku sedikit menikmati ‘penyiksaan’ ini… Hehehe

2 thoughts on “Bondage Photo Session

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s