Pesta Valentine yang tak terlupakan


Undangan Terbuka
PESTA VALENTINE YANG TAK TERLUPAKAN
Jika anda masih jomblo,
mungkin sang Pangeran
impian menantimu di sana.
Datang yuk !
FREE ENTRY FREE DRINK
untuk
mojang dan bujang
yang masih jomblo

Aku, Virna, Lina, dan Angelia serentak menerima undangan event tersebut di facebook page kami masing-masing. Kamipun menggunjingkannya di kampus dan sepakat datang bersama-sama. Kami berempat berlomba-lomba mendandani diri secantik dan seseksi mungkin. Aku memakai gaun ala cinderella putih dengan tali pita pinggang berwara pink, memakai mahkota imitasi kecil di kepalaku. Kakiku berbalut stocking putih dan kupadukan dengan sepatu jenis pantofel yang ada sabuk yang melintas di punggung kakiku seolah menghubungkan dengan kedua mata kakiku di kiri dan kanan kakiku. (seperti photo ini) Aku sudah berdandan penuh, bermake up tipis bermodalkan foundation dan sedikit bedak dan berlipstik merah merona namun elegan yang kurasa, karena aku tidak suka make up tebal-tebal serasa memakai topeng jadinya. 3 hari yang lalu beghel di gigiku di cabut. Aku merasa sempurna menjadi perempuan muda yang cantik dan sempurna. Oh iya, namaku Silvana, atau panggil saja Anna usiaku 21 tahun. Aku baru memasuki semester ke dua di sebuah universitas swasta terkemuka di ibukota.
“Bim….Biimm….!!”suara klason mobil kudengar, rupanya taxi berwarna putih menjemputku yang di dalamnya sudah gaduh dengan suara ke tiga sahabatku itu.
“tok…tok…tok…!” pintuku di ketuk
“masuk…” jawabku
Angelia masuk, lalu
“Ce ileee…. cantik sekali nona Anna malam ini..”
“Persis seperti cinderella!” komentarnya. Bayangan Angelia kutatap dari pantulan cermin, memakai tank top dress warna hitam dipadukan dengan sepatu yang serupa denganku namun berwarna pink di padukan dengan stocking hitam.
“Waw,…. cantik banget lu Angel” kagumku melihat penampilannya dan rambut panjangnya diurai begitu cantik
“Ah Anna, kamu lebih cantik lho…Yuk kita berangkat!” ajaknya
Setelah menyemprotkan parfum ke pergelangan tanganku dan belakang telinga akupun beranjak meninggalkan meja riasku mengambil tas pesta warna putih yang serasi lalu melangkah meninggalkan kamarku. Aku pamit kepada mbok Darmi yang mengasuhku.
“Mbok,….. aku pergi dulu yach!”
“Iya tapi jangan terlalu larut yach” mbok Darmi mengingatkanku
“Baik mbok,…!” sahutku pergi. Ayahku seorang pengusaha lagi melakukan perjalanan bisnis ke Jepang, mengajak ibuku untuk 2 minggu. Aku anak tunggal di titipi oleh mbok Darmi yang mengasuhku sejak kecil dan ini bukan yang pertama aku ditinggal keluar negeri oleh kedua orang tuaku.

Di dalam taxi Lina dan Virna juga terlihat cantik mereka berdua memakai rok mini dengan blus yang agak tertutup namun cukup seksi kelihatannya. Taxipun meluncur, Aku Angelia dan Lina duduk di belakang, sementara Virna duduk di samping supir taxi. Waktu di dalam taxi menunjukkan pukul 18.36, dan taxipun meluncur. 50 menit kemudian kami berempat tiba di tempat pesta dengan agak ragu-ragu kami bertanya kepada penjaga pintu, bahwa kami terima undangan lewat facebook. Tak diduga penjaga itu dengan ramah mempersilahkan kami masuk dan berpartisipasi dalam pesta yang terlihat meriah itu. Tepat acara baru di mulai dengan roll call yaitu pemanggilan undangan pesta berdasarkan asal sekolah atau kampus kami. Setelah usai perkenalan, kami secara tidak sengaja terpisah. Aku masih bersama Angelia sementara Virna dan Lina terlihat di jarak yang cukup jauh, sedang mengenalkan diri dengan pria-pria seksi dari kampus lain yang mungkin juga masih jomblo seperti yang kami berdua lakukan.
Malam sudah semakin larut, ku lihat di arlojiku sudah menunjukkan pukul 22.15 malam namun aku berhasil berkenalan dengan Frans, pria oriental yang tidak terlalu ganteng tapi tapi atletis dan sangat simpatik dalam memperlakukan perempuan. Cukup gagah dan terpelajar. Rupanya dia kakak kelasku di kampus yang sama namun beda jurusan. Kamipun mulai merasa ketertarikan satu dengan yang lain, aku melihat ke arah Angelia yang sudah nempel dengan cowok tinggi gagah dan ganteng berwajah timur-tengah tak jauh dari tempatku berkenalan dengan Frans sementara Virna dan Lina mungkin sudah mendapatkan pasangannya di kejauhan.
Kamipun mengambil minum, dan Frans mengambilkan segelas Martini untukku kami bersulang lalu meminumnya. Kami tertawa-tawa mengingat kelakuan masing-masing yang datang ke pesta ini untuk mencari pasangan.
Tiba-tiba kepalaku pusing dan pandanganku berkunang-kunang dan aku tak sadarkan diri.
****
Ketika aku sadarkan diri, aku tidak mendapatkan diri berada di sebuah pesta, melainkan di sebuah kamar apartemen dugaanku dan aku terduduk.

Aku berusaha bangkit berdiri mengetahui lebih lanjut di mana aku berada, ough! tidak bisa. Tanganku terikat tertekuk erat ke belakang. Ku lihat tali-tali berwarna merah meliliti tubuhku di atas dan tepat di bawah payudaraku. Kakiku yang berstocking putih dan sepatu pantofel hitam yang bersabuk melintas dipunggung kaki itu terikat juga dengan tali merah di pergelangan kakiku menyatu serta di bagian atas dan bawah lututku.
“eemmmpphhhhh… eemmmmppphhhhh….!!!” aku mencoba berteriak minta tolong namun suara itu yang kudengar.
Apa yang terjadi dengan diriku, aku diculik! Bagaimana dengan nasib teman-temanku Lina, Virna, dan Angelia. Kecemasan itu membelengguku sedemikian rupa. Namun malam itu tidak ada yang dapat kulakukan selain meronta-ronta berusaha melepaskan tali-tali merah yang membuatku tidak berdaya. Malam itu kulalui dengan ketidak berdayaanku dan aku tertidur dalam keadaan terikat di kursi.

Aku terjaga dari ketidak berdayaanku kira-kira pukul 10 pagi. Aku tidak mendapatkan diriku terikat ke kursi lagi melainkan dalam keadaan telungkup di suatu ranjang. Aku merasa kakiku tertekuk ke belakang dan tumit sepatuku dapat ku raba dengan tanganku yang terikat erat kebelakang. Aku menyesuaikan pemandanganku dan betapa terkejutnya aku melihat sekelilingku. Ku lihat sosok seperti Lina yang kukenal dari bajunya, dia terikat erat kaki dan tangannya. Mulutnya pun disumpal dan diikat dengan sapu tangan. Matanya tidak bisa kulihat karena kepalanya tertutup dengan sarung seperti sarung bantal. Di sudut lain aku lihat Virna yang kukenal dari tank top dress hitam dan sepatu putihnya, terikat tak berdaya di sebuah pilar di kamar itu. Tangannya terikat kebelakang, begitu juga dengan kakinya diikat menyatu ke pilar dan matanya tertutup dengan kain hitam, tak bisa melihat. Lalu Angelia kulihat terikat erat di sebuah kaki tempat tidur. Tak bisa kulihat wajahnya karena dipakaikan penutup kepala, mungkin juga mulutnya tersumpal tidak berbeda dengan keadaan aku dan teman-temanku yang lain, namun pakaian yang dipakainya membuat aku mengenali mereka.
“eemmmpphhhhh… eemmmmppphhhhh….!!!” aku mencoba berkomunikasi dengan mereka, tidak ada jawaban yang serupa karena mungkin mereka belum siuman. Dan upayaku untuk berkomunikasi dengan mereka tertutup setelah mataku ditutup diikat dengan kain merah. Aku yang dalam keadaan hogtie kini tidak dapat menggunakan mataku untuk melihat. Dalam keadaan tidak berdaya dan tak mampu melihat aku hanya bisa sesekali meronta-ronta mencoba melepaskan tali-tali merah yang membatasi dayaku. Aku tidak tahu apa yang terjadi untuk beberapa waktu lamanya karena hanya
“eemmmpphhhhh…..!!”
“eemmmpphhhhh…..!!” yang kudengar bersahut-sahutan di ruangan itu.
Suasana ketidak pastian berubah ketika kudengar seorang ibu dan seorang bapak masuk ke ruangan tempat kami di sekap. Mereka berbincang setengah berbisik tentang nasib kami yang kusimak adalah
“Semua ada 4 orang, masih muda, cantik dan sexy, Pak Haris” suara laki yang kemudian kukenal itu suaranya Frans
“Ini photo mereka berempat…” lanjutnya
“Wah… sejak kapan mereka memiliki photo kami berempat” batinku mencoba menguak misteri yang ku hadapi.
“Cantik juga mereka…..” suara laki-laki lain yang rupanya tadi di panggil Pak Haris
“Bawa aja sekarang, Pa!” suara perempuan menjawab
“Sabar Marina, mereka pasti akan kita bawa semua” ujar Haris
“Selanjutnya saya tunggu transferannya Pak Haris, Ibu Marina…” kembali suara Frans menjawab.
“Siapakah mereka ini, apakah mereka menjebak kami dalam pesta Valentine yang berkedok kriminal, mau di bawa kemana kami berempat ? akankah kami dibebaskan ??” berjuta tanya tanpa jawab memenuhi pikiranku dan mungkin juga memenuhi pikiran teman-temanku yang di culik jika mereka mendengarkan percakapan tadi.
Hening di ruangan tempat kami di sekap, aku tidak tahu apakah ketiga temanku masih bersamaku di ruangan ini. Lelah meronta-ronta dan tubuhku lemas dan akupun tertidur pasrah dalam kecemasan.
****
Lama rupanya aku tertidur, karena sudah jelang malam dan aku merasa tidak berada di tempat semula. Kini aku berada di sebuah lantai yang terdiri dari 4-5 sel seperti ruang tahanan kepolisian di mana di dalamnya ada beberapa perempuan duduk dalam keadaan terikat. Baru kusadari mata dan mulutku tidak di tutup, aku melihat perempuan berambut panjang di sebelahku yang terikat erat di kursi, dia adalah Angelia sahabatku, dengan pakaian tanktop dress hitam stoking hitam dan sepatu berwarna pink.

Mulutnya tersumpal lakban 3 lapis dan kepala masih tertunduk, tanda belum sadarkan diri. Di sel sebelah, kulihat Lina dan Virma juga duduk terikat dengan mata dan mulut yang disumpal. Di sel lainnya kulihat 5 orang perempuan berpakaian pesta dalam keadaan yang tidak berbeda dengan Lina dan Virna. Namun di dalam sel seberang ada sel khusus yang ditempati seorang perempuan yang diikat berdiri dan terikat ke jeruji besi sel. Di mana ini, apa yang terjadi dengan kita ? Aku tahu kalau rupanya si Frans memperdagangkan kami ke pada Pak Haris. Hanya itu yang kuketahui. Dalam sel tempatku di sekap ada perempuan cantik dan putih, dalam keadaan terikat erat penuh dengan lilitan tali, juga duduk di kursi memakai pakaian lusuh seperti gadis desa mata dan mulutnya pun tidak ditutup. Aku mencoba menyapanya,
“Mbak,….Kenapa mbak ada di sini ?” tanyaku
“Kamu siapa dik,… aku Annisa detektif swasta” jelasnya
“Aku Silvana mbak, mahasiswi.” Jawabku sambil menyebutkan tempat kuliahku
“Bagaimana kamu ada disini ?” tanyanya
“Kami menerima undangan pesta Valentine, dan tahu tahu sudah ada disini, diculik”
“Kami sedang menyelidiki sindikat perdagangan perempuan oleh residivis bernama Haris, aku menyamar masuk ke dalam tapi kami tertangkap oleh mereka dan dijadikan budak nafsu” jelas Annisa singkat
“Kami…. siapa lagi selain mbak Annisa ?” tanyaku
“Itu di sel ujung, mbak Lalita mitra penyidikku yang juga disekap…” mata Annisa seolah menunjuk ke seberang sel kami. Ada perempuan yang tampil seksi dan cantik.

Memakai blouse hitam dengan rok mini berwarna hitam terikat berdiri di teralis sel dan banyak tali tali meliliti tubuhnya berikut rantai kecil seperti untuk peliharaan juga meliliti tubuhnya. Rambutnya cukup panjang dengan mulut yang disumpal lakban, tidak mengurangi kecantikannya.
“Dia berhasil menyelinap masuk tetapi pas dia temukan aku di kamar tempat aku di sekap, dia berhasil dilumpuhkan!” cerita Annisa kembali. Aku merenung sambil menatap detektif Annisa yang mirip sekali wajahnya dengan penyanyi anggota Cherry Belle yang sangat ku kagumi.
“Mbak sudah lama di sini ?” tanyaku penasaran
“Hampir seminggu Silvana…” jawabnya sedih
“Mbak Annisa, mirip sekali sama Annisa yang di Cherry Belle” pujiku kagum
“Hmm dia memang adik kembaranku, nama kami cuma dibedakan dengan istilah bunga yang samai aja kog. Aku Annisa Rosmaria, dia Annisa Mawarsari” jelasnya tersenyum pahit,.
“eemmmpphhhh……….” rupanya Angelia siuman, menoleh kepadaku dan detektif Annisa
“eemmmpphhhh………eemmmpphhhh……….” Angelia meronta-ronta sembari berteriak
“Sabar, sabar dik ! Tim kami akan segera membebaskan kita” jelas detektif Annisa kepada Angelia.
“Angel, dia detektif Annisa yang ikut tertawan di sini. Nanti tim penyelamatnya pasti akan membebaskan kita” ujarku menenangkan Angelia. Pintu ruangan di mana sel-sel ini disimpan terbuka. Masuklah Pak Haris dikawal 2 orang kekar mereka berhenti didepan sel di mana kami disekap. Kedua pengawalnya masuk kedalam sel, lalu membopong detektif Annisa yang meronta-ronta begitu hebat.
“Hey,… mau dibawa kemana dia !!” hardikku
“eemmmpphhhh………eemmmpphhhh……….” mbak Lalita yang diikat di sel seberangpun meronta-ronta dan protes. Salah satu dari pengawalnya Pak Haris mendekatiku dan kemudian melepaskan tali yang mengikatku ke kursi kemudian mengangkatku
“Jahanam,…!! Lepaskan aku….!! Lepaskan !!!” aku berteriak memberontak sebelum sapu tangan dengan bau yang melemahkan syaraf ku rasakan dan aku tak sadarkan diri sementara sayup-sayup kudengar
“eemmmpphhhhh…..!!”
“eemmmpphhhhh…..!!” yang kudengar bersahut-sahutan dari Angelia dan mbak Lalita, lalu pelan pelan aku tidak ingat apa apa.
Ketika aku sadar, aku seperti berada di dalam sebuah salon dalam keadaan terikat tangan dan kaki, tak kulihat detektif Annisa di sana.
“Uffh…” kurasakan bedak di wajahku
“Ini apaan !?” tanyaku. Seorang pengawal yang mendampingi aku di rias di salon ini menjawab
“Ini perintah ibu Marina,… Kamu harus di make over biar lebih cantik untuk pelanggan VIP kami. Sudah kamu diam saja atau saya sumpal lagi mulutmu !!” jelasnya penuh ancaman.
Aku tidak mengerti, diculik dan diikat lalu didandani, dalam cerita action yang kugemari, begitu di culik kemudian diikat lalu menunggu dibebaskan. Memang kenyataan berbeda dengan cerita action. Aku yang di culik mendapatkan creambath walau mulut kembali di sumpal, rupanya hanya ketika di make up saja aku bisa berkomentar selebihnya adalah tawanan yang tidak berdaya mendapatkan perawatan kecantikan.
Namun aku berusaha menikmat creambath dan pijatan-pijatan yang kuterima dari ‘salon’ itu cukup meringankan pegal akibat diikat dan meringankan lelah walau dilakukan dalam keadaan terikat erat dan diawasi oleh pengawal.
Selesai dengan perawatan kecantikan, aku didudukkan di kursi roda, kemudian didorong keluar melewati lorong dan masuk kedalam sebuah ruangan dingin, menghadap ke sebuah jendela gelap dan aku di dudukkan di kursi bernomor 7. Ada 15 orang perempuan di sana termasukku; tak ada yang kukenal, mereka semua cantik dan berdandan manis duduk dalam keadaan tangan dan kaki terikat erat dan mulut yang di sumpal. Ternyata aku sedang di dalam ‘akuarium’ atau ‘showcase’ bersama 14 perempuan lain di sana. Dekat kakiku yang terikat ada tulisan SILVANA tertulis tebal dengan sebuah karton berbentuk segitiga.


“Ya Tuhan, lindungi aku. Jangan sampai terjadi padaku…..!” batinku berharap sambil menundukkan kepala namun sesekali mengangkat kepala akibat penasaran. Hari itu aku hanya duduk terikat erat tanpa mendapatkan penunjukkan dari laki-laki hidung belang. Malam rupanya sudah semakin larut, Dalam ‘akuarium’ tinggal aku dan enam gadis lainnya. Lampupun diredupkan dan aku tidak dikembalikan ke selku namun di simpan di sebuah kamaryang dekat, teman kamarku yang sudah berada di dalam adalah detektif Annisa. Perasaan ini lega namun tetap takut, aku senang bertemu dengan detektif cantik itu kendati kami tidak bisa berkomunikasi akibat mulut kami masing-masing yang di sumpal ini. Namun hati merasa sedikit tenang bersama detektif cantik yang sudah tidak mengenakan pakaian lusuhnya seperti tadi. Dia semakin anggun dengan dandanannya dan juga pakaian yang di kenakan. Pakaian bernuansa Tionghoa.
“eemmmpphhhhh…..!!” panggilku
“mmmmppphhhhh…..!!!” jawab detektif Annisa
Dan kamipun tertidur lelah.
Pagi datang, jika aku tidak salah, ini adalah hari kelima aku diculik setelah pesta Valentine dan kini berada di dalam tawanan sindikat perdagangan perempuan milik Haris. Kami sudah di suapi sarapan oleh perempuan yang disiapkan untuk melayani kami
“Dik Sil,… Dik Silvana…!!” panggil detektif Annisa
“Mbak, panggil saja Anna mbak,….” jawabku
“Kemarin kamu di apain dik?” tanyanya
“Kemarin aku cuma di creambath, lalu di make up ulang dan duduk di ruangan berjendela hitam sampai ngantuk” ceritaku
“Aku kemarin diperkosa lagi” Annisa menahan tangis “sudah lima kali sejak aku disini” kulihat mata detektif Annisa berkaca-kaca. Aku terdiam tak bisa berkata-kata sambil membayangkan itu juga akan terjadi padaku, cepat atau lambat tak terasa mataku berair.
“Mbak,… yang sabar ya, bukankah nanti teman-teman dari kantor akan membebaskan mbak. juga mbak Lalita ?” entah kata-kataku itu tepat atau tidak untuk menghiburnya.
“Harusnya mereka sudah tahu, karena kami tidak bisa berkomunikasi lagi….” sesal detektif Annisa
“Nanti mereka pasti datang dan membebaskan mbak, mbak Lalita dan kami berempat.” Yakinku pada detektif Annisa.
“Pasti,… harus !” detektif Annisa menguatkan diri.
Pintu terbuka, seorang pengawal masuk langsung mengangkat tubuhku ke punggungnya dan melangkah keluar
“Mau di bawa kemana dia !!?? Lepaskan dia…!!!!” teriak Annisa sementara aku hanya bisa meronta-ronta namun takut jatuh dari punggung pengawal itu.
Aku dimasukkan di kamar sebelah, tidak jauh dari kamar tempat detektif Annisa dan aku ditempatkan dari tadi malam. Aku dibaringkan dengan tangan terikat kebelakang di sebuah ranjang. Tali-tali yang mengikat kakiku dilepas namun dengan genggaman kuat, mereka membuka kakiku dan mengikatnya ke ujung bawah tempat tidur. Mulutku kembali di sumpal dan di lakban.
“eemmmpphhhhh…..!!”
Kemudian mereka beranjak meninggalkan aku di kamar itu, sunyi untuk beberapa waktu hingga seorang masuk
“Frans….?” aku ingin menyapa orang yang masuk kekamarku tapi suaraku tidak keluar
“Anna yang cantik, sekarang kamu milikku” katanya sambil membuka celana jinsnya.
“eemmmpphhhhh…..!!” aku menolak dan meronta begitu hebat mengetahui apa yang akan dilakukannya padaku, ketika mataku ditutupnya dengan kain hitam.
Aku merasakan pakaian cinderalaku di lucuti, kemudian kurasakan mulut yang berbau rokok itu mengulum-ngulum dan menjilati payudaraku
“eemmmpphhhhh…..!!” aku menolak dalam kenikmatan
Leherku di cumbunya sesekali di cupangnya, aku menolak namun tak berdaya dalam rangsangannya. Kemudian kurasakan celana dalamku di sobek paksa dan benda yang tak pernah kuundangpun masuk memecahkan selaput daraku

““eemmmpphhhhh……eemmmpphhhhh…..!!”
Lalu kudengar nafasnya tersenggal senggal ketika penisnya berhasil memasuki Miss V ku yang sempit. Aku menangis sedih merasakan perkosaan ini. Rasa sakit dan ngilu menguasaiku ditengah terkaman Frans penuh nafsu memperkosaku. Rasa sakt yang hebat itu membuatku tak sadarkan diri.
****
Aku sadarkan diri, mendapati tubuhku kembali berada dalam sel, bersama mbak Annisa, namun aku tidak melihat Angelia juga Virna yang disekap di sel lain. Hanya Lina yang masih terlihat duduk dalam kondisi terikat dan mbak Lalita yang ditawan di sel tersendiri dalam kondisi yang mengenaskan.
Aku tak bisa bersuara, hanya tangis dan airmataku yang terus mengalir, membasahi pipiku. Mbak Annisa pun diam dan seolah tidak ingin menggangguku dalam kesedihan.
“Aku baru diperkosa sama yang menculikku mbak….” tangisku rupanya lakban yang menyumpal mulutku terlepas akibat basah terkena airmataku.
“Aku bisa memahami perasaanmu dik Anna” hiburnya.
Aku mulai paham, rupanya Angelia, juga Virna mungkin sedang mengalami nasib yang serupa.
Entah sampai kapan aku dan teman-teman disekap dan menjadi budak nafsu di sini. Aku harus bebas, kita semua yang ditawan harus bebas! Tidak adakah yang bisa membebaskan kami? Kapan teman-teman detektif Lalita dan Annisa datang membebaskan kami.

TAMAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s