BU LINGGA YANG SOMBONG


Cerita ini berawal dari kebencian saya terhadap seorang manager marketing sebuah bank swasta ternama, sehingga saya harus melakukan hal-hal yang belum pernah terpikirkan oleh saya ini. Sebelum menceritakan pengalaman saya ini, perkenankan saya memperkenalkan diri, nama saya Satorman, umur 22 tahun, tinggi 170cm, dengan berat 56kg. Ya, seperti yang Anda pikirkan, perawakan saya memang dengan tubuh yang sedikit kurus, dengan kulit yang cukup gelap dan rambut yang krebo, seperti halnya perawakan orang NTT.

Nada dering lagu Ruang Rindu nya Letto di hapeku mengusik tidurku dan membangunkanku. “Halo, gimana interview tadi?” ternyata telepon dari Andi. Saya pun menceritakan semuanya, dan ternyata nasib kami hampir sama. “Kita ngobrol di warung kopi aja yuk, biar saya yang jemput kamu saja” ajak Andi. Karena tidak ada kegiatan, saya pun menyetujuinya. Bergegas saya segera mandi dan menunggu jemputan dari Andi. Bunyi klakson pun tak lama terdengar dari luar tempat kost. Saya sedikit kaget karena mengira Andi akan menjemput saya dengan sepeda motor, ternyata dia membawa mobil Suzuki APV warna hitam dengan kaca film hitam. Yang menyupir bukan dia, tetapi seseorang yang sepertinya saya kenal. Andi duduk di bangku kedua dan membukakan pintu untukku. Dia segera menyambutku dan memintaku segera naik ke mobil. Saya dan Andi duduk di bangku ke dua, di belakang saya lihat ada 2 orang dan di depan ada 2 orang termasuk sang supir. Andi pun kemudian memperkenalkan saya dengan mereka. Yang duduk, di belakang, mereka adalah Syamsul dan Mamat, mereka berperawakan layaknya preman, tangan penuh tatto dan brewokan. Saya menjadi sedikit takut untuk bergabung dalam kelompok ini. Tapi 2 orang di depan sedikit menenangkanku, mereka lebih kelihatan rapi dan seperti orang berpendidikan. Yang duduk di sebelah sang sopir, namanya Tono, dengan memakai kacamata, dia terlihat seperti seorang kutu buku. Sedangkan sang sopir bernama Herman, wajahnya seperti tidak asing bagi saya, kulitnya putih dan terawat layaknya seoarang anak toke yang kaya raya. Baru ku sadari kalau si Herman ini adalah calon karyawan yang lebih dulu diwawancarai sebelum kami tadi padi. Andi pun menjelaskan semua, Syamsul dan Mamat adalah temannya, dan Tono adalah teman si Herman, Andi memperoleh nomor hp Herman saat mereka menunggu di ruangan tunggu di bank tempat kami diinterview, seperti kami, Andi dan Herman pun banyak membagi cerita sambil menunggu interview. Herman ternyata memang anak orang kaya, tapi dia sebenarnya orang yang mandiri dan tidak mengharapkan bantuan orng tua nya dalam bekerja, dia lebin milih berusaha sendiri mencari pekerjaan yang setidaknya tidak mengecewakan kedua orang tuanya. Sedangkan si Tono ternyata adalah orang yang jorok dan sangat mesum, sepanjang perjalanan dia selalu membahas masalah bokep, dan saya sebenarnya sedikit risih. “Jadi, kita mau ke mana nih?” tanya saya kepada Andi. “Kita mau pergi bersenang-senang, ikut aja, pasti ga nyesal deh” jawab Andi yang sepertinya dia mempunyai sebuah idea yang cemerlang. Dalam perjalanan Andi pun memceritakan semuanya, ternyata mereka merencanakn sesuatu hal yang buruk, mereka akan balas dendam karena hal sepele hasil dari interview tadi pagi. “Loh, kalau kita memang tak masuk kualifikasi, ya apa boleh buat? Lagian mereka kan juga melaksanakan tugas mereka? Bu Susi pun sepertinya sangat terbuka dengan saya” saya coba menenangkan mereka, karena saya takut mereka membunuh kedua wanita itu, apalagi Andi membawa kedua temannya, Syamsul dan Mamat yang berlatarbelakang berprofesi sebagai preman di pasar. Kami pun memasuki komplek perumahan elit, kondisinya sangat sepi, mungkin karena yang tinggal di sini adalah rata-rata orang kaya yang selalu sibuk dengan bisnis mereka. Saya coba memandang sekeliling, seperti tidak adanya tanda-tanda kehidupan, kalaupun ada mungkin mereka sudah melepas lelah di kamar. Samapi di ujung komplek, mobil kami berhenti pas di depan rumah bernomor 18CC. Andi segera turun dan membunyikan bel yang ada di samping pagar. Tak lama saya melihat seorang wanita membuka pagar pintu, dan betapa kagetnya saya melihat bahwa wanita itu adalah Bu Lingga. Andi dengan cepat langsung menodongkan pisau lipat yang telah dia siapkan dalam saku celananya. Bu Lingga kelihatan sangat pucat, Andi segera memberi aba-aba menyuruh kami masuk. Hermanpun memasukkan mobil hingga ke dalam garasi yang sedang terbuka. Saya melihat Tono yang segera bergegas turun seperti orang yang kehilangan kesabaran, dengan membawa sebuah tas jinjing dia pun berlari langsung ke arah Andi dan Bu Lingga. Saya sangat takut sekali dengan semua ini, dan saya bepikir, apa yang telah saya lakukan? Kenapa bisa sampai ikut gerombolan ini. “Kamu jangan diam saja, cepat tutup tuh pagar!” perintah Herman yang sontak mengagetkan saya. Dengan reflek cepat segera saya langsung pergi menutup pagar pintu depan rumah, saat itu juga saya melihat mereka semua sudah menggotong dengan paksa tubuh Bu Lingga ke dalam rumah. Dengan segera saya berlari ke arah mereka, Bu Lingga yang tadi pagi terlihat sombong, kini tak berkutik, dia hanya bisa terdiam karena takut dengan pisau yang dibawa Andi. “Cepat bawa ke kamar, telanjangi dan ikat dia!” perintah Andi. Rumahnya cukup besar, ruang tamu nya terlihat mewah sekali, dengan sofa yang elit dan tv LCD yang besar, mungkin ukuran 52 inchi dengan sound system yang lengkap. “Jangan bengong aja, ayo bersenang-senang” ajak Andi menarik tanganku menuju sebuah kamar dan saya melihat Syamsul menyuruh Bu Lingga untuk membuka bajunya. Bu Lingga sendiri yang ketakutan dengan terpaksa membuka blouse putih terusan yang tadi siang di pakai di kantor, rupanya Bu Lingga tampaknya baru sampai di rumahnya terlihat Ia masih lengkap menggunakan baju kantoran berikut stocking coklat senada warna kulitnya berikut sepatu high heelsnya.
Tampak dari raut mukanya Bu Lingga sangat terpaksa sekali membuka bajunya tapi apa daya di bawah ancaman pisau lipat terpaksa Bu Lingga menuruti perintah Syamsul.
“Jangan buka semuanya, tetap pakai bra,celana dalam dan stokingnya” peritah Syamsul. Rupanya Syamsul sepertinya tertarik melihat Bu Lingga mengenakan bra dan G string putih malah bu Lingga juga mengenakan garter belt biru yaitu pengait stocking supaya tidak turun yang biasa saya lihat dalam film porno yang biasa saya tonton.
“Boss …Sepertinya kita bakal buat film yang hot bondage nih…. Dengan pemainnya Bu Lingga …… ternyata di balik bajunya yang sopan ternyata dalemannya seperti pelacur dalam film porno….hahaha……” tawa Syamsul. Bu Lingga terlihat pasrah dan menuruti perintah Syamsul untuk naik ke atas ranjang dan tidur telentang.
Syamsul dan Mamat mulai menutup mata Bu Lingga dengan kain satin putih dan menyumpal mulut Bu Lingga dengan scraft biru yang di ambil Mamat dari lemari pakaian. Mereka juga mengikat tangan dan kaki Bu Lingga ke masing masing sudut ranjang dengan ikat pinggang dari kain, tali daster dari satin yang mereka ambil dari gantungan baju Bu Lingga.

BU LINGGA DENGAN TERPAKSA MELEPASKAN BAJU TERUSANNYA

BU LINGGA DENGAN TERPAKSA MELEPASKAN BAJU TERUSANNYA

BU LINGGA TINGGAL MENGENAKAN BRA, G STRING, GARTER BELT, STOCKING DAN SEPATU HAK TINGGI

BU LINGGA TINGGAL MENGENAKAN BRA, G STRING, GARTER BELT, STOCKING DAN SEPATU HAK TINGGI

Setelah meneanjangi dan mengikat Bu Lingga, Syamsul dan Mamat segera keluar dari kamar dan berkata kepada Andi, “Kami gasak hartanya dulu boss, biar tuh pelacur boss yang kerjai aja dulu, selamat bersenang-senang”. Bu Lingga yang diikat seperti huruf X di atas tempat tidur mulai memelas, “Ampun, biarkan saya pergi, kalian boleh ambil harta saya, tapi jangan apa-apa kan saya” Bu Lingga pun mulai meneteskan air mata. “Saya tak perlu hartamu!” teriak Herman mendekati Bu Lingga dan menutup mata Bu Lingga dengan kain satin putih. Dengan mata tertutup Bu Lingga malah semakin keras menangis dan meminta ampun, “Aku mohon maafkan aku…”Dan kemudian Herman mengikat mulut bu Lingga dengan scraf biru dan sempat mengerayangi payudara Bu Lingga yang berbalut bra putihnya menyembul keluar, “Maaf? Itu ga cukup pelacur murahan… Kau telah mempermalukanku, dan aku pun akan mempermalukanmu..” kata Herman diikuti senyuman yang sangat menakutkan. Saya hanya terdiam, walaupun sedikit terangsang, tapi saya coba menahan, saya ke sudut ruangan dan duduk di kursi yang tersedia. “Santai saja dulu, liat dulu dengan permainan kami” kata Andi kepadaku sambil melemparkan sebungkus rokok Marlboro dan sebuah pemantik apinya. Saya menyalakan rokok dan mencoba menenangkan diri dan melihat aksi mereka.
Sebenarnya saya sangat takut dengan perbuatan seperti ini, tapi apa boleh buat, ini sungguh adalah pemandangan yang sangat memacu gairah. Saya pun melihat Tono membuka tasnya, ia mengeluarkan sebuah handycam, gila, dia pikir ini mau dijadikan film. Sempat saya intip isi tas nya, ternyata banyak sekali alat sex. Baru saya sadari bahwa Tono adalah seorang yang hypersex, mungkin otaknya sudah sedikit tak normal, ada sedikit kelainan pada nafsu birahinya. Tono, Andi dan Herman, mereka mengerjai Bu Lingga secara bersamaan, sangat brutal menurut saya. Saya coba tenang, tapi sesuatu yang ada di balik celana saya malah tidak tenang, dia tegang terus dari tadi.

BU LINGGA TERIKAT DI RANJANG SEPERTI HURUF X

BU LINGGA TERIKAT DI RANJANG SEPERTI HURUF X

BU LINGGA TERIKAT DENGAN POSISI KAKI MENGANGKANG

BU LINGGA TERIKAT DENGAN POSISI KAKI MENGANGKANG

Saya melihat Herman menindihnya, duduk tepat di atas dadanya dan terus menerus menampar pipi kanan dan kirinya. Sedangkan Andi sedang sibuk melorotkan G String Bu Lingga dengan paksaan sampai melorot ke batas lutut Bu Linga. Aksi itu terus direkam oleh Tono sambil sesekali ia pun ikut menampar pipi Bu Lingga. Herman pun membuka resleting celananya, dan mengeluarkan Mister P nya yang sudah mengacung tegak, “Cepat kulum! Puaskan saya, atau kau ku bunuh!” ancam herman. “Mmmpphh…Mmmpphhh.. Jaa angan… Saayaa mo hoon…” pinta Bu Lingga yang dengan mata tertutup kain dan mulut yang di sumpal scraf, dengan suara Bu Lingga yang tidak jelas terdengar. Herman terlihat sangat marah, ia pun berdiri dan terus melepaskan semua pakaiannya hingga telanjang bulat.

BU LINGGA SEDANG MENGULUM PENIS HERMAN

BU LINGGA SEDANG MENGULUM PENIS HERMAN

VAGINA BU LINGGA YANG SIAP DI GILIR DAN DI PERKOSA

VAGINA BU LINGGA YANG SIAP DI GILIR DAN DI PERKOSA

Melihat demikian Tono dan Andi tidak mau kalah, mereka pun melepaskan pakaian mereka masing-masing hingga tak tersisa sehelaipun. Bu Lingga terus meronta berusaha melepaskan diri dari ikatan tersebut, G String putihnya sudah melorot sampai batas lutut, terlihat vaginanya yang berwarna merah muda, sedangkan bagian atas, pakaiannya sudah sobek, payudara tampak bergoyang-goyang dibalik balutan bra putih ketika ia coba meronta lebih kuat. Sebatang rokok sudah saya habiskan, saya belum cukup nyali untuk ikut nimbrung walaupun nafsu saya terus bergejolak. Ah, nanti saja saya nikmati sendiri, pikir saya dengan tenang, toh, saya sudah terjerumus dalam keadaan seperti ini. Saya nyalakan rokok yang kedua, kemudian kembali memandang kearah mereka, ternyata Bu Lingga sudah nyaris telanjang bulat tinggal branya saja yang masih menempel, Herman dan Andi mengoyak semua pakaian Bu Lingga dengan cutter dan gunting yang dibawa di dalam tas Tono. Sedangkan Tono yang sedari tadi mengambil video, bergerak mundur, dia meletakkan handycam di meja belakang dan menghadapkannya ke arah tempat tidur, mungkin dia bermaksud mengambil video secara otomatis agar dia bisa melakukan kesibukan lainnya. Jantung saya berdetak dengan kencang melihat mereka berempat yang telah telanjang bulat. Saya segera mematikan rokok saya, saya buang ke lantai dan menginjaknya. Saya segera bangkit dan melepaskan semua pakaian, saya sadar bahwa gairah saya sudah tak tertahan lagi.
“Ayo kita bersenang” teriak Andi. “Sabar donk kawan, sebelum kita nikmati kue ini, sebaiknya kita test dulu kandungannya, takut mengandung racun atau bahan tak bermutu sejenisnya” ejek Tono sambil membongkar tas nya dan mengeluarkan beberapa peralatan. Yang satu seperti model Mister P, tapi ada kabelnya, Tono langsung melemparkannya ke arah Herman. Satunya lagi dia pegang, seperti sejenis jepitan jemuran baju dari kayu. Tanpa aba-aba, mereka langsung mengerjakan tugas mereka. Tanpa belas kasihan, Tono langsung menjepitkan kedua jepitan tersebut kedua belah puting susu Bu Lingga. Terlihat Bu Lingga tersontak, karena jepitan tersebut mengakibatkan rasa sakit pada putting Bu Lingga. Darimana Tono bisa dapat barang beginian, tanya saya dalam hati, benar-benar seorang yang mengidap kelainan sexual. Sedangkan saya lihat yang dipegang Herman, terus bergetar, benda bulat panjang yang sepertinya terbuat dari karet itu bisa bergetas dan bergerak meliuk-liuk seperti ular.

VAGINA BU LINGGA HABIS DI MASUKI JARI JARI PEMERKOSANYA

VAGINA BU LINGGA HABIS DI MASUKI JARI JARI PEMERKOSANYA

JUGA VAGINA BU LINGGA HABIS DI GILIR DI HISAP, TAPI SEPERTINYA BU LINGGA MULAI MENIKMATI

JUGA VAGINA BU LINGGA HABIS DI GILIR DI HISAP, TAPI SEPERTINYA BU LINGGA MULAI MENIKMATI

Bu Lingga tidak mampu melakukan perlawanan, bahkan rintihannya pun sudah tak kedengaran karena bibirnya sedang dinikmati Andi. Terlihat Andi sangat bergairah menciumi bibir Bu Lingga. Saya sendiri bingung, mau menikmati apa lagi? Susah sekali berbagi dengan pria-pria yang sudah kesetanan ini. Herman sedang asyik menyodokkan sextoy yang ia pegang tadi kedalam lubang Miss V nya Bu Lingga. Saya hanya bisa memandang, walaupun kali ini dalam jarak yang sangat dekat. Tubuh Bu Lingga sangat seksi, tak kalah dengan gadis remaja, kulitnya betul-betul mulus. Teringat saya dengan kejadian tadi pagi membuat kekesalan saya kembali muncul, sehingga saya juga ingin sekali mengerjai wanita sombong yang sekarang tak berdaya ini. Segera saya bongkar tas milik Tono, berharap saya mendapatkan sebuah mainan yang menarik. Belum sempat menemukan barang yang menarik, tiba-tiba bel rumah berbunyi. Kami terdiam dan masing-masing menghentikan kegiatan kami. Sialan, siapa yang datang? Pikir saya dala hati, jangan-jangan suaminya yang pulang? Kenapa tak kepikiran oleh saya dari tadi? “Jangan-jangan suaminya pulang?” tanya saya yang telah memecahkan keheningan. Sambil berbicara pelan, Andi menjawab, “Bukan, suaminya lagi bertugas di Sulawesi, saya sudah minta Syamsul dan Mamat mencari informasi tadi siang”. “Lalu, ini siapa? Apa tetangganya? Apa yang harus kita lakukan?” tanya saya kritis. Perasaan saya sangat tidak enak, jantung saya pun kembali berdetak kencang, lulut pun seakan tak mampu bergerak lagi, mungkin kami akan kepergok. “Sebelah rumah kosong, lagian ini rumah sangat besar, tak mungkin suara kita kedengaran oleh tetangga” jawab Andi yang juga was-was. Saya benar-benar ketakutan, saya menyesali apa yang telah saya lakukan, apa saya yang baru mendapat gelar sarjana harus nantinya mendekam di penjara karena ulah tak senonoh ini? Saya liat sekeliling, mereka bertiga pun sudah kelihatan tegang. Bu Lingga tidak berani berteriak, mungkin karna kami menaruh benda tajam berserakan di lantai, ada cutter, gunting, dan pisau lipat, mungkin dia tidak berani mengambil resiko untuk berteriak. “Mana koncomu si Syamsul dan si Mamat? Jangan sampai mereka buka pintu. Seharusnya tadi kita mematikan lampu agar rumah keliatan seperti tak ada orang” protes Herman kepada Andi. Samar-samar kami mendengar suara pagar terbuka, saya pun meraih pakaian saya dan bersiap-siap kabur jika sesuatu terjadi. Sialan, gumam saya dalam hati, belum mulai saja suadh diganggu kayak gini. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki, berjalan menuju kamar ini. Dari suara tersebut sepertinya tidak satu orang. Herman segerz meraih pisau lipat, dan Andi mengambil cutter yang berserak di bawah kakinya. Tono hanya terdiam, sepertinya dia adalah seorang yang penakut. Dua sosok pria mendekati kamar, dari jauh sangatlah tidak jelas, saya dan teman-teman sudah siap-siap bertindak apa saja agar kami selamat. Sosok tersebut semakin terlihat jelas ketika mereka telah mencapai pintu, ternyata mereka adalah Syamsul dan Mamat. “Bos, lihat apa yang kami temukan di depan pintu?” sahut Syamsul yang sedang merangkul seorang anak kecil. Anak itu saya perkirakan berumur 7-8 tahun, dengan mulut yang dibekap dengan tangan si Syamsul, gadis kecil itu tak bisa berteriak. Rambutnya diikat seperti ekor kuda, gadis kecil itu juga mengenakan tas di punggungnya, mungkin saja dia baru pulang dari les. “Ini Veronica, anak perempuannya Bu Lingga” jelas si Mamat. “Saya mohon lepaskan anak saya…” pinta Bu Lingga dibalik isak tangisnya. Saya tak habis pikir apa yang terjadi selanjutnya. “Hahahaha, ikat anak itu, biar saya yang tangani” minta Tono kepada Syamsul dan Mamat. Tono terlihat senang sekali, senyumnya seperti serigala kelaparan yang menemukan seonggok daging segar, astaga, apa Tono akan mengerjai gadis kecil ini juga? Saya tahu kalau Tono adalah orang yang punya kelainan, tapi apa dia sungguh tega? Syamsul dan Mamat pun mengikatkan gadis kecil itu ke kursi rotan yang terletak dekat tempat tidur.

Gadis kecil itu menagis sekencang-kencannya dan meminta tolong pada ibunya, seakan dia tidak tahu derita apa yang terjadi pada ibunya. Tono mendekati gadis kecil itu, “Gadis kecil yang malang, saya tidak tega sampai dia melihat mamany bersenang-senang” Tono pun menutup mata gadis kecil itu dengan penutup mata yang dia bawa di dalam tasnya. Sedangkan Herman meneruskan kesibukkannya, ia terus menusukkan sex toy yang terus bergetar di Miss V milik Bu Lingga. “Apa kamu tega melihat anakmu kami siksa? Lebih baik kamu layani kami dengan senang hati” bisik Tono di telinga Bu Lingga. “Tolong lepaskan dia..” mohon Bu Lingga dan seketika ia pun berteriak ketika Tono dengan paksa menarik jepitan di putingnya. “Kalau mau anakmu selamat, layani kami baik-baik” ancam Tono. Saya juga tidak melihat Syamsul dan Mamat lagi, mungkin mereka meneruskan mencari harta yang bisa mereka bawa.

Dengan bringas Tono langsung mengulum puting susu Bu Lingga, tanpa berperasaan dia mengulum bahkan mengigit puting susu sebelah kiri Bu Lingga, sambil tangannya meremas-remas payudara sebelahnya dengan keras. Andi pun tak mau kehilangan kesempatan, dia kembali mendekatkan Mister P nya ke muka Bu Lingga, dengan menjambak rambut Bu Lingga, Andi memaksa memasukkan pahlawan kecilnya itu ke mulut Bu Lingga. Saya lihat Bu Lingga sudah tak dapat menolak, mungkin dia lebih

BUAH DADA BU LINGGA DI HISAP BAHKAN DI GIGIT

BUAH DADA BU LINGGA DI HISAP BAHKAN DI GIGIT

MULUT BU LINGGA DI PAKSA DI GILIR MENGULUM PENIS PEMERKOSANYA

MULUT BU LINGGA DI PAKSA DI GILIR MENGULUM PENIS PEMERKOSANYA

memikirkan keselamatan anak perempuannya itu. “Bagus… Anak pintar…” ejek Andi dengan senangnya merasakan hangat Mister P nya di dalam mulut Bu Lingga. Saya tidak dapat jatah sama sekali, mereka bertiga sangat bringas, susah sekali untuk berbagi, mungkin saya mesti antri, dan saya hanya bisa memainkan Mister P saya sendiri dengan tangan saya sambil menunggu giliran. Sedangkan Herman sudah melepaskan sextoy yang dia pakai, dicabutnya sextoy itu dan dilepmparkan ke lantai, dan menggantikan kerja sextoy tersebut dengan Mister P nya. Bu Lingga yang sombong tadi pagi sudah tidak berkutik, kini dia adalah mikik kami. Andi yang sedang memasuk keluarkan Mister P nya di mulut Bu Lingga , melepaskan ikatan tangan Bu Lingga yang terikat ke atas di ranjang, mungkin Andi pikir Bu Lingga sudah tak mungkin berontak lagi. Dan ternyata benar, Bu Lingga malah menggengam Mister P milik Andi dan memberkan pelayanan terbaik. “Sudah, jangn sibukkan tanganmu kepadaku, cukup mulutnya saja yang aku perlu, tanganmu biar untuk teman aku saja yang kasihan tuh manyun sendirian” kata Andi sambil meledek saya. Saya pun ingin merasakan bagaimana nikmatnya dilayani, saya pun mendekat, dan Bu Lingga pun langsung memegang Mister P saya dan mengocoknya, walaupun dia juga sedang sibuk melayani 3 pria lainnya. Gadis malang yang duduk terikat di dekat kami terus menangis, dia tidak bisa melihat apa-apa dan tidak tahu apa yang sedang dialami ibunya. Sambil menampar-nampar pipi Bu Lingga, dia terus menusukkan Mister P nya ke mulut Bu Lingga, bahkan ia memaksakan hingga Mister P nya bisa sampai ke kerongkongan Bu Lingga. Dan sekali-kali saya melihat Bu Lingga seperti tersedak. Saya sudah tak peduli, tanganny yang hangat dengan jari-jari yang lentik membuat Mister P saya merasakan nikmat yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Sedangkan Herman sepertinya sudah akan mencapai klimaks, gerakannya sudah dipercepat dan dia sedikit bergumam “Perek ini biarpun sudah berkeluarga, tapi masih sempit, ga sia-sia kita membayar mahal, hahaha”. “Jangan! Jangn keluarkan di dalam!” teriak Bu Lingga yang segera mengeluarkan Mister P nya Andi dan melepaskan genggaman tangannya di Mister P saya. Dia kelihatan panik dan mendorong Herman agar tidak melepaskan cairan sperma di dalam rahimnya. Tapi usahanya gagal, Herman akhirnya mencapai klimak, dan Bu Lingga pun pasrah merasakan cairan hangat mengalir ke dalam rahimnya. Andi kelihatan kesal karena Bu Lingga berhenti mengulum Mister P nya, dia pun kembali menampar pipi Bu Lingga yang terus menerus tak henti mengeluarkan air mata.

TERLIHAT DARI MATANYA BU LINGGA TAK TERASA MENIKMAT MULUTNYA DI GILIR MENGULUM PENIS

TERLIHAT DARI MATANYA BU LINGGA TAK TERASA MENIKMAT MULUTNYA DI GILIR MENGULUM PENIS

SEPERTINYA MULUT BU LINGGA YANG KECIL KEWALAHAN JUGA DI GILIR MENGULUM PENIS

SEPERTINYA MULUT BU LINGGA YANG KECIL KEWALAHAN JUGA DI GILIR MENGULUM PENIS

Setelah Herman mencabut Mister P nya, saya lihat dengan jelas indahnya Miss V milik Bu Lingga yang mengalir sedikit cairan berwarna putih seperti lelehan lahar yang meletus dari gunung berapi. “Hahaha, payah sekali kau man, masa sebentar saja sudah KO?” ejek Tono kepada Herman yang mundur dan duduk di kursi yang sebelumnya saya duduki. Sepertinya dia cape dan butuh istirahat, dia menyalakan rokok sambil memandang ke arah Tono, “Yang penting alami, ga buatan seperti punyamu”. Tono hanya terdiam dan tersenyum kecil, dan kemudian meneruskan kesibukannya menikmati payudara Bu Lingga. Saya mungkin bisa menebak kalau Tono mengunakaan obat untuk keperkasaannya. Baru saja saya terlengah memandang ke arah Herman, ternyata Andi sudah merubah posisi, mungkin dia sudah bosan dengan mulut Bu Lingga. Andi melepaskan ikatan kaki Bu Lingga agar lebih leluasa menggagahinya. Mulutnya yang sedang nganggur menjadi kesempatan bagi Mister P saya beraksi. Saya segera mendekatkan Mister P saya ke arah muka Bu Lingga, menggantikan posisi Andi sebelumnya. Nikmat tiada tara saat Mister P milik saya menancap di mulut Bu Lingga yang indah, apa!agi kalau sempat merasakan hangatnya Miss V. Saya harus abar, walaupun akan mendapatkan giliran terakhir, saya tetapa menikmati. Yang dilakukan Andi seperti halnya Herman, terus berpompa, menggoyangkan tubuh Bu Lingga maju mundur di atas tempat tidur. Tono yang hyper masih menikmati payudara Bu Lingga seperti layaknya anak bayi, sambil sesekali, Tono berdiri dan mundur ke meja untuk memeriksa handycam yang sudah standby dari tadi, Tono hanya memastikan handycam itu merekam semua aksi kami. Goyangan Herman mulai kuat, kini gilirannya yang bakal ejakulasi, ia menangkul paha Bu Lingga dan menariknya agar Mister P nya dapat tenggelam lebih dalam di lubang hisap itu, dan cairan kental berwarna putih pun sedikit mengalir keluar ketika Andi menmabut kejantanannya. Bu Lingga yang masih terus menangis hanya bisa pasrah dengan perlakuan seperti ini, suaah 2 lelaki yang menyemprotkan cairan benih kehidupan di dalam rahimnya, apa yang akan terjadi jika dia nanti hamil? Mungkin itu juga yang sedang dipikirkannya. Melihatnya sebenarnya saya sedikit iba, tapi nafsu saya sudah tak terbendung, apalagi mengingat sikapnya terhadap saya tadi pagi, membuat saya sedikit kesal. Saya sudah tidak mendengar suara anak perempuan Bu Lingga, gadis kecil itu tak bergerak, mungkin dia tertidur karena kecapekan karena dia dari tari meronta dan menangis. Tono kemudian meminta saya menggantikan posisi Andi, “Kamu duluan saja, bukan apa nanti kalau saya yang duluan, mungkin kamu bakal bete nungguin giliran”. Saya sangat tahu maksudnya, dia ingin ber cinta lebih lama dengan Bu Lingga, dan dia ingin membuktikan manfaat obat kuat yang telah dia konsumsi. Saya pun beranjak dari tempat saya, menarik keluar Mister P milik saya, walaupun saya masih berpikir sayang belum ada yang berhasil menyemprotkan benih-benih cinta haram ini di mulut Bu Lingga.

BU LINGGA MENIKMATI DI PERKOSA BERGILIRAN

BU LINGGA MENIKMATI DI PERKOSA BERGILIRAN

VAGINA BU LINGGA HABIS DI GILIR, DI SIKSA DI PERKOSA SECARA BRUTAL

VAGINA BU LINGGA HABIS DI GILIR, DI SIKSA DI PERKOSA SECARA BRUTAL

“Bagus banget pelacur ini, kalau kita jual kepasaran pasti laku banget ya?” sindir Andi sambil berjalan menuju kursi sebelah Herman. Andi dan Herman pun beristirahat dengan ditemani sebungkus rokok yang tadi sempat saya hisap juga. Tak nyangka saya yang termasuk “goodboy” bisa menjadi seperti ini. Saya masukkan dengan perlahan batang keperkasaan saya, terus melesap masuk, tidak begitu sulit karna lubang Miss V milik Bu Lingga telah basah dengan cairan sperma. Hangat sekali, rasa yang tiada tara, tubuhnya harum, sungguh saya sudah terperangkap dalam nikmatnya hubungan sex terlarang ini. Tono sudah mulai bosan mencumbui payudara Bu Lingga saja, iapun mundur dan memeriksa handycam nya. Kebosanan Tono memberikan saya kesempatan merangkul tubuh Bu Lingga, sambil meneruskan aktivitas, saya peluk tubuh Bu Lingga. sungguh luar biasa meresakan kulit menyentuh kulit, dada saya menyentuh payudara Bu Lingga. Saya tindih badannya dan segera melumat bibirnya. Bu Lingga sedikit menolak, dia selalu memalingkan wajahnya dan berusaha agar saya tidak bisa menciumnya, tapi apa daya? Sekarang dia adalah milik kami seutuhnya, dia tak bisa berkutik lagi, kami dapat memaksanya bahkan bisa menyakitinya bila ia menolak kemauan kami. Astaga, Tono kemudian menggenggam kameranya dan mengambil adegan kami dari dekat. Saya merasa semakin mengebu-gebu, saya di sutting dari arah yang dekat, bagaikan seorang bintang film panas yang bercerita sedang bercumbu dengan kekasihnya.

Saya alihkan perhatian saya menuju lehernya, kucium bahkan ku cupang. Sampai saya bosan dan beralih lagi ke payudaranya. Payudaranya memar-memar akibat perlakuan Tono, bekas cupangan ada di mana-mana, terus di sekitar putingnya tampak bercak merah, saya rasakan ini adalah darah, mungkin akibat jepitan di puting yang Tono tarik cerata brutal. Tapi saya tidak perduli lagi, saya tetap melakukan kesibukan saya, menjadi seorang aktor blue film walaupun masih amitir, tapi saya tidak mau menunjukkan kekuarangan saya yang belum pernah melakukan hubungan badan ini. Saya menikmati pergulatan ini dengan sabar, tidak brutal seperti mereka, dan tidak ingin lebih cepat berejakulasi dibanding mereka yang lebih berpengalaman.

VAGINA BU LINGGA DI SIKSA DENGAN JARI JEMARI

VAGINA BU LINGGA DI SIKSA DENGAN JARI JEMARI

SPERMA BELEPOTAN DI SEKITAR VAGINA BU LINGGA

SPERMA BELEPOTAN DI SEKITAR VAGINA BU LINGGA

Batang berganti batang, Herman dan Andi merokok sambil bergosip ria, saya tidak mendengar jelas apa yang mereka rundingkan lagi, karna saya lagi fokus pada kesibukkan saya ini. Namun, tiba-tiba Andi menawarkan sebuah idea pada saya, “Besok kita kerjain Bu Susi yuk?” Ternyata itu yang sedang dibahas mereka. “Orang lagi sibuk, jangan diganggu..” ujar Herman seolah mengejek saya. Bukan saya tak mendengar karna kesibukan saya, tapi saya kurang setuju, Bu Susi termasuk orang yang cukup baik, kurang tega sepertinya kalau saya harus mengerjainya. Saya terus menggenjot, hingga tubuh Bu Lingga bergoncang naik turun, dalam pikiran saya malah tidak ada niat mengerjai Bu Susi, melainkan terlintas pada pikiran saya sosok Vera sang resepsionis yang sangat menarik. Ah, selesaikan ini dulu, baru nanti bahas masalah selanjutnya. Selang beberapa lama dalam aktivitas membara ini, saya rasakan Mister P milik saya ini sudah mulai bergetar tidak tahan ingin muntah, saya kemudian memeluk erat tubuh Bu Lingga yang sudah terlalu capek untuk berontak, terus saya genjot dan saya percepat irama genjotan hingga akhirnya Mister P milik saya berhasil menyemprotkan cairan kenikmatan yang membuat saya seperti terbang ke langit. Nikmat sekali, sungguh luar biasa menurut saya, rasanya tidak ingin melepaskan pelukan ini, dan saya biarkan Mister P milik saya tertancap di lubang Miss V untuk sementara waktu. Tono masih mengambil video, dia tidak mengusik saya, jadi saya biarin dulu, dengan keadaan yang belum berubah, saya hanya melepas lelah dengan tidur menindih Bu Lingga. Saya rasakan Mister P saya mulai menciut di dalam Miss V Bu Lingga.

“Sudah selesai bos?” tiba-tiba terdengar suara dari depan pintu ruangan. Syamsul dan Mamat sepertinya sudah mendapatkan yang mereka mau. Mereka memasuki kamar dengan membawa sebuah tas yang penuh terisi entah apa. Mamat langsung berjalan menuju ke lemari dalam ruangan, di bukanya dan diacak-acaknya. Sedangkan Syamsul mendekati saya, sudah bisa saya tebak apa mau nya. Terpaksa saya cabut Mister P saya yang sudah mengecil dan meninggalkan tubuh Bu Lingga yang sedanb menarik nafas panjang karena sesak tertindih oleh saya. “Sorry ya bos, kita gantian…” kata Syamsul meminta ijin pada saya. “Wah, kalau begini, giliran saya kapan?” sindir Tono yang masih memegang handycam. Syamsul sudah tak mau menghiraukan sindiran Tono, dia langsung melepas semua pakaiannya. Wah, Mister P milik Syamsul besar sekali, mungkin bukan asli menurut saya, soalnya sungguh tidak masuk akal ukurannya. Jadi penasaran melihat aksi Syamsul dan bagaimana tanggapan Bu Lingga. Saya kemudian duduk berkumpul dengan Herman dan Andi, saya nyalakan sebuah rokok untuk menemani saya melihat aksi Syamsul.

BU LINGGA MENIKMATI MEGULUM PENIS

BU LINGGA MENIKMATI MEGULUM PENIS

BU LINGGA SAAT ORGASME DAN PEMERKOSANYA BERAMI RAMAI MEGELUARKAN SPERMANYA DI MUKA BU LINGGA

BU LINGGA SAAT ORGASME DAN PEMERKOSANYA BERAMI RAMAI MEGELUARKAN SPERMANYA DI MUKA BU LINGGA

Sedangkan Tono keliahatan kesal, sampai dia tidak mau mengambil video lagi. Dia benar-benar ngambek, handycam langsung ditaruhnya di atas meja, dan dia bergabung dengan kami dan menyalakan rokok. Melihat temannya kesal, Herman merasa tidak enak, dia ambil handycam Tono dan menyoroti Tono. Herman coba menghibur Tono yang lagi menghisap rokok dengan muka cemburut. Sedangkan Syamsul sudah menancapkan Mister P jumbo nya ke liang Miss V Bu Lingga. Bu Lingga terlihat kesakitan dengan ukuran jumbo yang mencoba mengobrak-abrik daerah kewanitaannya itu. Saya rasa batangnya terlalu panjang, kalau dipaksakan mungkin hanya bisa masuk 80% saja. “Aah, saakiiiittttttt……” rintihan Bu Lingga terdengar jelas. “Wah, bisa kaya nich kita..” terlihat Mamat mengeluarkan banyak perhiasan emas dari lemari yang dari tadi diobrak-abriknya. Mamat mulai memasukkan semua perhiasan dalam tas besarnya itu, sempat saya liahat dalam tas tersebut banyak uang kertas pecahan seratus ribu dan beberapa buah telepon genggam. “Terlihat dilayar monitor, model majalah playboy, bernama Tono, badannya yang gagah dengan wajah ganteng…” goda Herman yang masih menyorot muka Tono saja. Akhirnya Tono tersenyum kecil, dibuangnya rokok yang baru 2 kali dihisapnya ke lantai, terus diinjaknya agar padam apinya. Sepertinya dia kembali bersemangat karna godaan Herman. Tono bergerak ke arah anak Bu Lingga yang masih tertidur dengan penutup mata menutupi matanya. Tono menyingkap rok gadis kecil tersebut dan kemudian menarik turun celana dalam gadis kecil tersebut. “Hahahaha, datang deh kumatnya” kata Herman yang terus menyorot Tono, walau sesekali dia juga menyorot aksi Syamsul yang lagi hot. “Jangaan apa-apa kan anaak saaayyyaaa…” Bu Lingga memelas. Syamsul sepertinya sangat brutal, ia langsung memberikan bogem mentah ke perut Bu Lingga, hingga Bu Lingga melonjak dan tak sadarkan diri. Syamsul tidak perduli itu, ia ingin menikmati tubuh Bu Lingga tanpa gangguan. Saya hanya bisa melihat aksi mereka walaupun tak habis pikir dengan kelainan yang diderita Tono tersebut. Spertinya gadis kecil itu tersadar dari tidurnya ketika Tono milai melepaskan semua ikatan tali di tubuhnya. Gadis kecil itu berterik “Mama…” meminta tolong walaupun matanya masih tertutup dan tidak tahu bahwa mama nya juga sudah tak berkutik. Tono mulai melepaskan semua pakaian yang dikenakan gadis kecil yang malang itu. Saya lihat susu anak kecil itu bahkan belum tumbuh, hanya sedikit saja tonjolan yang tak berarti, sedangkan Miss V gadis kecil itu mulus tanpa bulu sedikitpun, mungkin lubangnya pun tak bisa ditembus jari karena saking sempinya. Sepertinya Mamat sudah selesai mengemas semua perhiasan yang ada, dan dia segera bergabung dengan Syamsul. Dia melepaskan semua pakaiannya juga, hingga telanjang bulat. Mister P milik Mamat kurang lebih sama ukurannya dengan milik Syamsul, besar dan panjang, dengan penuh urat-urat disekitarnya. Mamat kemudian menampar-nampar pipi Bu Lingga dengan Mister P nya yang besar panjang. Mereka terlihat seperti dua bersaudara, tubuh mereka juga relatif sama, kekar, berkulit hitam, dan penuh dengan tatto. Sambil menunggu giliran, Mamat menancapkan Mister P nya ke mulut Bu Lingga yang belum juga tersadar. Sedangkan Tono, masih mengelus tubuh putih bening bersih gadis malang tersebut.
Sambil melihat aksi mereka, saya bersama Andi dan Herman saling berbagi kisah dan cerita, sambil melepas lelah. Dari sini lah kami menjadi akrab, bahkan hingga sekarang. Hingga sekarang pun kami masih memiliki pengalaman yang sangat mengasyikkan, jika saya tidak berhalangan waktu, saya akan terus membagikan cerita saya kepada pembaca semua.

Tono mengambil sextoy yang terletak di lantai, kemudian ia coba masukkan ke lubang kecil milik anak Bu Lingga. Kelihatannya sextoy itu terlalu besar, dan tak bisa di masukkan. Gadis kecil itu ketakutan sekali, dan mencoba berontak, bahkan berusaha melepas tutup matanya. Tono yang sedikit tak fokus sehingga gadis kecil itu dapat lepas dari cengkraman Tono. Gadis kecil itu berlari keluar ruangan. Tapi apa daya, Tono lebih cepat, tak sempat berlari jauh, gadis kecil itu pun berhasil disambar kembali oleh Tono. Tono menggendongnya kembali ke kamar dan menlemparkannya ke lantai. Astaga, brutal sekali. Tono sudah kelihatan kesal sekali dengan gadis kecil malang itu. Gadis kecil malang yang akan rusak masa depan nya sebentar lagi telah tidak memakai penutup matanya lagi, rambutnya pun sudah acak-acakan di mana pita ikatan rambutnya sudah terlepas. Pandangan Tono sungguh bringas, tatapannya sangat mengerikan, seolah-olah liurnya akan menetes keluar dari mulutnya dan segera dijilati lagi dengan lidahnya agar sekitar mulutnya kering dari liurnya. Gadis kecil itu kemudian menangis sekencang-kencangnya, matanya sudah mulai bengkak, pipinya penuh dengan air matanya. Tono mendekati gadis itu dan mengangkatnya ke atas kursi yang tadi digunakan untuk mengikat anak itu. “Kamu bisa diam ga? Atau kamu dan mama kamu, kami bunuh?” ancam Tono yang kemudian mengambil tangan gadis kecil itu untuk disentuhkan ke Mister P nya. Gadis kecil itu masih tidak bisa menghentikan tangisnya, tapi gadis kecil itu pun tidak bisa menolak perintah Tono, badannya terlalu lemah untuk melawan. Dia pun diajarkan Tono untuk memainkan Mister P dan mengulumnya. Mulutnya kecil sekali, Mister P milik Tono tak bisa masuk dengan penuh, jadi anak itu hanya mampu menjilati dan mengkocok-kocoknya dengan tangan mungilnya. Tubuhnya gemetaran, sangat takut dengan semua perlakuan ini. Tono masih berdiri di depan gadis kecil yang sedang melayaninya. Mungkin ini sedikit brutal dan tak seharusnya pembaca membacanya. Tapi ini hanyalah sharing dari saya, tidak perlu ditanggapi serius. Sedangkan nasib Bu Lingga masih belum sadarkan diri, dia masih terus digenjot oleh Syamsul, dan Mamat juga sedang menggagahi mulut Bu Lingga. Sepertinya saya, Andi, dan Herman, telah selesai men-charge kembali tenaga kami. Mister P saya kembali eraksi, namun saya hanya bisa menunggu, dan saya yakin Herman dan Andi pun sudah taksabar menunggu giliran. Setelah berhasil menyemprotkan sperma di dalam tubuh Bu Lingga, Syamsul segera mencabut Mister P nya, karna dia juga mengerti dengan keinginan Syamsul yang tak sabar ingin juga menikmati lubang kewanitaan Bu Lingga. Daripada menunggu kelamaan, kami pun beranjak dari kursi, saya segera mengambil posisi didekat muka Bu Lingga, seperti adegan sebelumnya, mulutnya masih menjadi target nikmat. Sedangkan Herman mengulum payudara Bu Lingga, disedotnya dengan kuat dan digigit-gigitnya puting yang sudah terlanjur cedera tersebut. Hanya Andi yang mempunyai ide lain, dia meminta kami sedikit pengertian untuk menghentikan aktivitas kami. Ternyata dia menemukan minyak angin di dalam tas yang dibawa Tono, ia segera menggosokkan minyak angin itu di area bawah hidung Bu Lingga agar tersadar. Kami yang lebih tertarik menyetubuhi Bu Lingga secara sadar, sangat mendukung aksi Andi. Hanya Syamsul yang lebih tertarik menyetubuhi pasangnnya yang dalam keadaan tak sadarkan diri. Syamsulpun hanya duduk di kursi tempat sebelumnya kami duduk, sebenarnya dia kelihatan tidak begitu capek, mungkin dia hanya sedikit bosan dengan permainan tadi. Akhirnya Bu Lingga pun tersadar dari pingsannya, dan dia kemudian kembali menangis ketika melihat anak perumpuannya sedang mengulum batang kejantanan milik Tono, “Tooloongg, lepassskaaannnn anaakkkkk sayaaa…” pint Bu Lingga. “Tenang saja, teman saja cuma menyuruhnya hisap, tak lebih, tapi kalau kamu tidak menuruti perintah kami, mungkin kmi yang akan bertindak, mungkin saja anak kamu akan kami perkosa bergantian, bahkan kami bunuh” ancam Andi. Bu Lingga yang masih meneteskan air mata langsung terdiam, dia tidak mau terjadi hal yang lebih mengerikan terhadap anak perempuannya. Sedangkan anaknya sendiri tidak memperhatikan lagi keadaan ibunya, matnya sudah bengkak penuh air mata, tubuhnya masih gemetaran, hanya sedikit tenaga saja yang masih tersisa padanya untuk mengulum Mister P milik Tono. Andi pun menyuruh kami semua turun dari tempat tidur, kemudian dia memerintahkan Mamat untuk membaringkan diri dengan terlentang. Diapun memerintahkan Bu Lingga untuk segera menaiki kasur dan bergaya WOT (bagi yang belum ngerti biar saja tulis kepanjangannya saja: Woman On Top). Awalnya Bu Lingga menolak, tapi Herman dan Andi segera memapahnya ke atas, dan meletakkan dia di atas Mamat, dengan pas Mister P Mamat yang berdiri tegak menancap “blezzz” ke lubang Miss V nya Bu Lingga. Kemudian Andi mendorong punggung Bu Lingga hinnga tubuhnya bersentuhan dengan Mamat. Mamatpun segera memeluk erat tubuh Bu Lingga. “Nah, ada tambahan satu lubang lagi yang nganggur, siapa mau?”

BU LINGGA DENGAN POSISI MENUNGING SIAP DENGAN LUBANG ANUSNYA DI MASUKI PENIS

BU LINGGA DENGAN POSISI MENUNGING SIAP DENGAN LUBANG ANUSNYA DI MASUKI PENIS

ANDI LANGSUNG MENANCAPKAN PENISNYA KE ANUS BU LINGGA YANG SEMPIT

ANDI LANGSUNG MENANCAPKAN PENISNYA KE ANUS BU LINGGA YANG SEMPIT

Andi menawarkannya kepada kami. Saya dan Herman hanya diam saja. Kalau saya sendiri sich merasa jijik kalau sampai harus merasakan lubang anus, mungkin karna saya belum pernah mencobanya, atau bagi mereka yang doyan, mungkin itulah sensasi menarik bagi mereka. “Jangan, tolong jangan di sana, saya belum pernah” kata Bu Lingga yang ketakutan. “Makanya… Dicoba dulu…” ujar Andi menanggapi Bu Lingga. Saya bergerak ke arah depan agar Bu Lingga bisa mengulum Mister P milik saya, dan Herman menarik tangan Bu Lingga untuk mengocok kejantanannya. Melihat demikian, Andi langsung menancapkan Mister P nya ke lubang anus nya Bu Lingga. “Akhhhhh……….” teriak Bu Lingga yang kesakitan ketika lubang anusnya yang sempit dipaksa dengan keras oleh batang Andi yang mengeras, badannya tersentak dengan mata yang membelalak, seperti orang yang tersambar petir secara tiba-tiba. Karena kesakitan, hampir saja Bu Lingga menggigit kemaluan saya, untung dengan cepat saya jambak rambutnya dan menjauhkan mulutnya dari Mister P saya. Saya tampar pipinya agar dia mengerti apa yang hampir dia lakukan, emangnya dia pikir kemaluan saya adalah sosis yang tinggal digigit saja? Sialan banget, bikin saya jantungan saja. “Wuih, terjepit dengan kuat, kalian yang ga coba, jngan nyesal ya…” goda Andi. Saya belum berani menancapkan kembali “sosis” saya hingga Bu Lingga mulai terbiasa dengan cumbuan di lubang anusnya.

Beberapa menit telah berlalu, kamipun belum sempat ada satupun yang berejakulasi. Saya lihat Tono masih dikulum oleh gadis kecil yang sangat-sangat kelelahan itu. Semakin dilihat bukannya saya semakin kasihan, tetapi malah sebaliknya, saya malah sangat terangsang. Astaga, apa penyakit hypersex Tono bisa menular? Kuluman mulut Bu Lingga terhadap Mister P saya malah tidak saya hiraukan, melainkan saya membayangkan gadis kecil itu yang mengulumnya. Dengan fantasi seks itu malah saya mencapai klimaks, saya pun mencengkram kepala Bu Lingga dengan kuat, saya pun mendorongkan batang saya hingga sedalam mungkin, sampai Bu Lingga kehilangan napas, dan saya berhasil membasahi kerongkongannya dengan air mani saya.

BU LINGGA MENIKMATI PERKOSAAN ATAS DIRINYA

BU LINGGA MENIKMATI PERKOSAAN ATAS DIRINYA

BU LINGGA MENJILATI SPERMA DI BATANG PENIS...OOUUCCHH...SSLLLUURRPPP...

BU LINGGA MENJILATI SPERMA DI BATANG PENIS…OOUUCCHH…SSLLLUURRPPP…

Saya pun mundur menjauhi Bu Lingga, tetapi saya tidak beristirahat, pandangan saya tidak lepas dari tubuh sang gadis kecil. Saya pun mendekatinya, saya coba mengusap tubuh gadis kecil itu. “Wah, ente maniak juga ya bro…” ejek Tono yang masih memaju mundurkan pinggangnya di depan wajah gadis kecil ini. Saya coba menciumi susu gadis kecil malang ini yang belum tumbuh, saya sedot kuat di bagian putingnya. Rasa capek saya seolah hilang begitu saja, betul-betul obat mujarab penghilang rasa capek.

Merasa sedikit bosan, saya dan Tono pun meraba paha hingga selangkangan gadis kecil itu. Jari-jari kami pun mencoba menerobos ke dalam lubang Miss V milik gadis kecil itu. Perebutan kami akhkrnya dimenangkan Tono, dia berhasil menusukkan jari telunjuknya ke dalam kemaluan anak perempuan Bu Lingga hingga gadis kecil itu berteriak kesakitan. Sedangkan di atas tempat tidur, perduelan Bu Lingga dengan Andi kan kawan-kawan masih berlangsung, bahkan Syamsul telah bersemangat kembali dan ikut nimbrung di sana. Beberapa menit kemudian, kami sudah tidak hanya menjamah dengan tangan saja di tubuh gadis kecil ini, Tono sudah berhasil memperbesar lubang kemaluannya dengan jari, dan Tono sudah siap menancapkan batang kejantanannya. Berjam-jam telah kami kerjai ibu dan anak ini secara bergantian, sudah tidak tahu berapa kali saya menggagahi mereka berdua. Sampai pagi tiba, tepatnya pukul 4 pagi, kami akhirnya terpaksa menyudahi kegiatan kami. Tubuh Bu Lingga dan anaknya penuh dengan cupangan dan cairan air mani di mana-mana. Tetapi sebelum itu, kami masih sempat membawa mereka ke kamar mandi. Anak dan ibu yang ngos-ngosan itu kami bopong, dan kami mantikan di kamar mandi. Tak terlewatkan oleh kami untuk melakukan 1 ronde lagi di bawah guyuran shower dan dalam bak mandi.
TANTE LINGGA DIIKAT
TANTE LINGGA DIIKAT
Setelah puas, kami kembali memakaikan busana ke tubuh mereka. Syamsul dan Mamat mengemas hasil curian mereka, Tono pun kembali memasukkan peralatannya. Setelah berkemas-kemas, dan kembali berpakaian, kamipun siap meninggalkan mereka. Tetapi sebelum itu, kami mengancam Bu Lingga agar tidak mengadukan hal ini, karena kami tidak akan segan-segan untuk menyebarkan video adegan permainan sexs ini, bahkan kami juga tidak akan membiarkan keluarganya tenang apa bila dia berani macam-macam. Bu Lingga yang terduduk di atas tempat tidur sambil memeluk anaknya, hanya bisa mengangguk, dia juga tidak ingin terjadi hal yang lebih buruk lagi, cukup ini pengalaman terpahit yang tidak boleh lagi terulang. Sebelum beranjak dari ruangan, saya mendekati Bu Vianh yang sudah harum, saya cium keningnya dan mengucapkan “Terima kasih bu…”.

Kami pun masuk ke APV dan meninggalkan rumah Bu Lingga. Dalam perjalanan Andi dan Herman membahas masalah ingin mengerjai Bu Susi, tapi saya menolak, “Lain kali saja dibahas, saya capek, ingin segera pulang dan beristirahat”. Mereka malah mempunyai ide lain, mereka malah ikut ke kost saya dan membahas rencana berikutnya di kamas kost saya. Syamsul dan Mamat pun membagi hasil curiannya. Saya sudah tidak perduli apa yang mereka bahas, saya segera mengistirahatkan badan karena sudah capek sekali. Yang penting sya sudah mendapatkan pembagian hasil curian yang setidaknya bisa menutupi hutang sewa kost saya yang tertunggak 6 bulan, bahkan bisa untuk membayar 6 bulan berikutnya.

Video hasil syuting disimpan baik-baik oleh Tono, saya tidak berani meminta copyannya, karna saya takut lalai dan mejatuhkannya. Hingga sekarang saya belum tahu apakah film itu ada diplubikasikan atau tidak. Mungkin Tono juga menyimpannya dengan baik karena Bu Lingga tidak pernah menggugat kami, malahan dia telah pindah ke luar kota, dia memilih untuk tinggal di kota tempat suaminya bekerja. Setelah kejadian ini, kami masih meneruskan hobi baru kami ini, dan saya akan membagikan ceritanya kepada para pembaca, bahkan kisah-kisah teman saya yang lebih seru lainnya.

3 thoughts on “BU LINGGA YANG SOMBONG

  1. Buat cewe, tante, janda, IRT yang kesepian, butuh
    teman curhat, sharing dll, bisa
    menghubungi 087808392013 khususnya
    yang berada di daerah Tangerang, Jakarta
    Barat. Ga usah malu2, rahasia terjamin…
    No Guys, No Cowo, No Waria…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s