MALAM TERAKHIR BERSAMA BU LINGGA


Besok adalah hari terakhir di Bali, rasanya kangen juga dengan tempatku merantau. Sedikit bosan juga di sini, karena setiap hari hanya main di pantai, jalan-jalan, makan bersama, lalu malamnya pun membosankan. Teman-teman hanya sibuk dengan pestanya dengan Sally, aku hanya menghabiskan malam dengan menonton tv. Beberapa malam ini aku sendirian di kamar, bosan berebutan dengan mereka yang menikmati Sally. Sedangkan Bu Bu Lingga tidak terlihat batang hidungnya, aku tidak mengetahui berapa nomor kamarnya. Seandainya tahu, setidaknya aku bisa mengunjunginya. Mungkin dia sudah pulang, atau pun masih sibuk dengan meeting mereka.
Pagi sekali sekitar jam delapan pagi, aku memutuskan berkeliling sendiri mencari oleh-oleh untuk teman-temanku. Teman-teman lain sedang malas, mereka mungkin masih capek karena pesta semalam. Aku pun berjalan keluar dari kamar hotel, saat akan meninggalkan hotel, ternyata seseorang yang kurindukan pun muncul. “Bu Lingga…”, aku pun menyapanya. Senyumnya manis membalas sapaanku, “Satorman… Mau kemana?”, tanya Bu Lingga. “Mau keliling bentar, cari oleh-oleh…”, jawabku. “Wah, kebetulan… Yuk ikut saya saja…”, Bu Lingga menawarkan.
Aku pun tidak menolaknya, karena sedikit rindu dengannya, ia pun mengajakku ke parkiran, “Saya juga mau cari oleh-oleh, besok harus pulang ke Samarinda…”, katanya. Ketika ia menekan remote mobilnya, sebuah Kijang Innova hitam pun berbunyi. Ia membawaku berkeliling dengan mobilnya, aku duduk di depan untuk menemaninya.
Hari ini kulewati dengan berbelanja bersama Bu Lingga, bukan hanya ditemani Bu Lingga, tapi ia juga membayarkan belanjaanku. Sebenarnya aku menolaknya, tapi ia terus memaksa, mau tidak mau aku harus menerima kebaikannya.
Setelah itu kami pun makan bersama di sebuah restoran yang cukup mewah, sekali lagi ia mentraktirku, aku menjadi sangat tidak enak hati. Sampai di hotel barulah ku tahu maksud Bu Lingga, sekali lagi ia mengingatkan, “Pulang sampai di Pontianak, tolong ya video dulu dihapus…dan sebagai gantinya saya akan melayani kamu sebagai budak seks.”. Hahaha, ku kira Bu Lingga ada hati denganku, ternyata ia hanya khawatir dengan video pemerkosaan dulu dan akupun terkejut mndengar tawaran yang menarik dan tak mungkin ku tolak. “Malam terakhir ne, singgah ya…”, ajakku agar Bu Lingga bisa menemaniku malam ini, malam terakhir merasakan cinta di pulau Bali. Ia tersenyum lalu pergi menjauhiku untuk kembali ke kamarnya.
Sambil menunggu malam, aku merapikan belanjaanku, agar aku mudah membawanya dan membaginya ke teman-teman saat tiba di kota ku, tempat mencari nafkah. Tak terasa waktu berjalan cepat, aku sedikit kelelahan, jam menunjukkan pukul 22:35. Akhirnya Bu Lingga memenuhi permintaanku, ia kembali singgah ke kamarku.
Kali ini Bu Bu Lingga mengenakan pakaian kantor, blouse abu abu transparan, rok mini, stocking warna kulit dan sepatu hak tingginya, hmm, tahu benar dengan seleraku. “Hadiah buat Satorman… Menikmati seorang manager bank…dan bersedia melayani anda sebagai budak seks”, kata Bu Lingga dengan cosplay yang menggodaku. “Hahaha, tau banget seleraku…”, sahutku keheranan.
Bu Lingga adalah seorang manager di sebuah bank swasta di Samarinda, dulunya ia bekerja di bank swasta di Pontianak, karena takut aib pemerkosaan terbongkar, Bu Lingga rela mengundurkan diri dan mengikuti suaminya untuk bekerja di Samarinda. Ternyata dari cerita bu Lingga setelah peristiwa perkosaan itu bu Lingga ternyata malah menyukai seks bondage dan bu Lingga sangat menikmati tubuhnya di nikmati banyak lelaki, tapi dalam keadaan terikat dan tidak berdaya. Bahkan dengan suaminya bu Lingga selalu minta diikat dulu sebelum bersenggama. Bahkan yang buat aku tidak percaya kalau bu Lingga kerap melayani para lelaki hidung belang dengan memberi service bondage sekaligus dengan beberapa lelaki atau istilahnya di gangbang. Rupanya bu Lingga juga merangkap sebagai wanita panggilan khusus melayani seks bondage, tentunya dengan bayaran yang lumayan mahal. Begitu juga ia kerap melayani direksi direksi bank sehingga karirnya cepat menanjak. Sangat di luar dugaan, aku bisa bertemu dengannya di Bali, Bu Lingga sedang mengadakan rapat antar cabang se-Indonesia. Dengan beberapa strategi kelicikanku, Bu Lingga pun jatuh ke genggamanku.
“Tapi malam ini, aku mau merasakan sensasi seperti dulu lagi bu…”, sambungku lalu mencari sesuatu di lemari. “Maksudnya?”, kemudian menutup pintu dan mendekatiku. “Bondage…”, jawabku sambil mengeluarkan seutas tali plastik yang cukup panjang. Baiklah kalau itu maumu Satorman, saya siap melayani kamu malah saya sudah membawa tali daster, tali dari kain dan scraf untuk memyumpal mulut dan menutup mataku seraya mengeluarkan dari tasnya peralatan yang biasa di pakai bu Lingga. Malah bu Lingga langsung membuka blouse dan roknya sehingga bu Lingga tinggal mengenakan teddies putih dari satin berikut stocking dan garter belt sehingga membuatku semakin terangsang. Aku benar benar di buat kaget, tapi aku yang sudah lama tidak merasakan sensasi pemerkosaan, akusangat merindukannya. Ku dorong Bu Lingga jatuh ke ranjang, dengan sigap aku lalu mengikat kedua tangan Bu Lingga di atas ranjang, ku ikat dengan kuat agar terlihat lebih nyata. “Sorry ya…”, aku berbisik di telinganya.
LINGGA DIIKATTANTE LINGGA
“Ayo Satorman perlakukan aku seperti ketika kamu memperkosaku tapi mataku di tutup dulu ya”, ujar Bu Lingga memohon. Lalu ku ambil scraft bu Lingga dan ku ikat mulutnya dan mataya kututup sesuai permintaannya dan agar lebih dramatis, “Biar lebih menyenangkan, Bu Lingga berontak ya…”; kata ku. “Hmmm….”, Bu Lingga tidak bisa berbicara lagi karena mulutnya tertutup scraf biru tosca dan matanya juga sudah kututup dengan scraf hijau lumut, kepalanya menggeleng-geleng mengisyaratkan bahwa ia pura pura tidak setuju dengan gaya seperti ini. “Ikuti saja say…”, kataku sambil menepuk kecil pipinya.
Kakinya kemudian ditendang-tendangkan, rupanya bu Lingga mengikuti perintahku untuk pura-pura berontak,seperti ketika aku perkosa dulu. Aku tidak mau tahu, kuciumi aroma tubuhnya, dimulai dari rambutnya, wajahnya, lalu lehernya. Kontolku sudah ngaceng tak karuan, segera kulepaskan semua pakaianku agar kontolku yang mengeras bisa leluasa tanpa terbungkus celana jeans ku yang keras.
LINGGA DIIKATLINGGA DI JILAT PENTILNYA
Kuciumi aroma harum buah dadanya, harum dan nikmat sekali.
“Mmmpphhh…..mmmmphhh…. mmmpphhh…” hanya suara itu yang keluar dari mulut Bu Lingga karena sumpal scraf di mulutnya. Tampaknya bu Lingga benar benar menikmati adegan perkosaan ini.
Lalu ku tarik naik teddies putihnya pada bagian buah dadanya, sehingga mencuat keluar susu bulat Bu Lingga walaupun kecil tapi putting susunya mencuat menantang. Saking putihnya, nampak bekas kemerahan yang diakibatkan tekanan teddies nya. Lalu kuciumi kembali aroma khas payudara nya, hmm, lalu ku jilati sekitar puting susunya, nikmat sekali.
Bu Lingga masih menggeleng-gelengkan kepalanya, dan juga menendang-nendangkan kakinya. Lalu ku ikat kakinya pada masing masing ujung ranjang agar tidak bergerak lagi, dan ku kenyot susunya dengan beringas. Walaupun usianya yang sudah tidak muda lagi, namun tubuh Bu Lingga yang terawat masih sangat enak dipandang, lekuk tubuhnya seksi, buah dada nya pun cukup bulat, tidak terlalu besar dan tidak begitu kecil, namun padat berisi. Kulitnya yang putih ciri khas gadis oriental membuat aku semakin menyukai kenikmatan ini.
Putingnya yang besar, langsung mengeras dan berwarna coklat itu ku pilin dengan jari tanganku. Kuputar-putar, kujepit, ku tekan, lalu ku tarik. Sebelah susunya terus ku sedoti bagaikan bayi yang sedang netek dengan ibunya. Sekali-kali aku memainkan lidahku di putingnya. Namun ketika jariku capek, aku bergantian posisi, menyedot sebelah susunya lagi, lalu dengan tangan sebelah lagi memainkan putingnya Bu Lingga.
TANTE LINGGA PENTILNYA DI JEPITLINGGA DIIKAT BUGIL
Dan putting susu Bu Lingga aku jepit dengan jepit jemuran baju yang terbuat dari kayu. “Mmmmpphhh….mmmpphhh….mmmmpphh…….” hanya itu rintihan Bu Lingga yang keluar dari mulutnya walau scraf di mulut bu Lingga terlepas. “ Aaakkhhh….aaacchh…. ayo Satorman siksa saya sepuas kamu …. Perkosa saya berkali kali…..” tantang bu Lingga. “Sabar sayang ….aku sedang menikmati dirimu yang terikat.
Wajah Bu Lingga yang cantik dan harum terus kujilati, dari kening, pipi, hidung, telinga hingga lehernya. Matanya tertutup seolah tidak menerima perlakuan seperti ini. Aku bangkit untuk melihat seluruh tubuh Bu Lingga yang terikat, sungguh menakjubkan. Tangannya terikat ke atas, kakinya terikat pada masing masing ujung ranjang sehingga bu Lingga terikat seperti huruf X, scraf yang mengikat mulutnya sempat terlepas dan kembali ku ikat mulut bu Lingga yang mungil dan buah dadanya terlihat jelas karena teddies satin putihnya terangkat ke atas, tubuh atasnya benar-benar putih, semakin menggoda karena teddies satin putihnya masih menempel di tubuhnya. Sedangkan bagian bawah teddiesnya masih terkancing.
LINGGA BONDAGETANTE LINGGA SEKS BONDAGE
Kaki jenjangnya juga mulus, aku mencoba meraba pahanya hingga ke ujung kakinya yang terbungkus stocking dan garterbelt sewarna dengan kulitnya.
Kembali aku meraba kakinya kini hingga ke atas. Ku raba masuk ke dalam teddies satinnya, sampai di pangkal pahanya itu, ku coba menemukan belahan vaginanya yang tertutup teddiesnya. Ku elus-elus belahannya itu dengan pelan-pelan, terus menerus hingga Bu Lingga terlihat mengejang kegelian.
Sedikit basah di tengahnya akibat ku mainkan tadi belahan vagina Bu Lingga.
Kali ini, kutarik pengait teddies Bu Lingga hingga nampak vaginanya yang lebat ditumbuhi jembut. Kuraba benda itu, ku sisir pula bulu-bulunya dengan jariku. Lalu ku dekatkan wajahku untuk menjilati vaginanya. Awalnya kujilati belahannya saja, namun perlahan-lahan aku coba memasukkan lidahku hingga ke dalam vaginanya. Ku jilati terus dinding-dinding vagina Bu Lingga, hingga cukup lama lalu kujilati klitorisnya, jari telunjuk kananku kini yang kugunakan untuk menyusuri lubang vagina Bu Lingga.
Bu Lingga terlihat kegelian, ia membalikkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, karena sensasi yang kuberikan dari memainkan klitorisnya dengan lidahku dan mengocok vaginanya dengan jariku. Kutarik dan kusodok lagi jariku ke dalam vagina Bu Lingga, kuputar lalu ku obok-obok bagian dalamnya.
MEMEK TANTE LINGGA LAGI DI KOBELMEMEK TANTE LINGGA DI JILATIN
Satu jari tak cukup, hingga aku masukkan lagi jari tengahku untuk mengobok vagina Bu Lingga yang sudah mulai basah. Masih sambil menjilati klitorisnya, ku mainkan lidahku di sana, lalu ku putar-putarkan lidahku, dan kini Bu Lingga tidak bisa menahannya, cairan sedikit hangat mengalir keluar. Lalu aku menarik wajahku agar bisa lebih fokus mengobok vaginanya, jari tanganku yang satunya ku gunakan untuk menggantikan posisi lidah ku tadi. Sambil memainkan klitorisnya dengan jari telunjuk tangan kiriku, aku terus memompa dua jari tangan kananku di vagina Bu Lingga, hingga air itu terus menyemprot keluar. Seperti lahar panas gunung berapi, air itu berhamburan keluar tiada henti, belepotan di tanganku hingga di sprey kamar hotel ini. Ku sodok terus jariku hingga Bu Lingga terlihat ke capekan dan berhenti meronta-ronta.
Kemudian dengan tidak sabar aku memaksa Bu Lingga untuk mengoral kontolku.
“Ayo hisap kontol aku dan puaskan aku “ kataku sambil menyodorkan kontolku ke mulut Bu Lingga. Dan scraft yang menutup mata Bu Lingga aku buka supaya aku bias melihat ekspresi mukanya. Dengan muka seperti terpaksa Bu Lingga mulai menjilati kontolku.
TANTE LINGGA TERIKAT HISAP KONTOLTANTE LINGGA MENIKMATI DI PERKOSAMULUT TANTE LINGGA DI SUMPAL PENISTANTE LINGGA HISAP KONTOL
Kali ini jelas kalau Bu Lingga benar benar menikmati kontolku. Mulutnya yang mungil mulai keluar masuk kontolku. Aku merasakan sepertinya kontolku masuk sampai ke pangkal tenggorokan Bu Lingga. Dan hisapan Bu Lingga memang nikmat seperti pelacur pelacur yang biasa aku nikmati. Rupanya benar adanya kalau Bu Lingga juga merangkap sebagai wanita panggilan. Servicenya benar benar memuaskan. Sampai aku terpuaskan dan dengan nafsunys Bu Lingga langsung menelan spermaku kedalam mulutnya yang mungil. Bukan itu saja tetesan tetesan spermaku habis di jilati sampai bersih.
Kemudian aku bangkit dan siap menikmati vagina Bu Lngga. Tanpa sabar, aku langsung menindih Bu Lingga, ku sedoti susunya sambil mengarahkan kontolku ke lubang vaginanya. Tidak susah menerobos vagina Bu Lingga, lubangnya yang sudah basah membuat aku mudah menjebloskan kontolku di dalamnya. Kugigit kecil puting susu vagina sambil memompa pelan kontolku di vaginanya. Susunya sebelah yang luput dari sedotanku, menjadi bahan bagi tanganku untuk meremasnya.
Hasratku makin tinggi, aku pun mempercepat iramaku, ku peluk erat tubuh Bu Lingga dan ku ciumi lehernya yang harum. Pinggangku terus bermain memompa vaginanya, sungguh nikmat merasakan sensasi seperti ini. Rambut Bu Lingga yang tadinya lurus panjang dan rapi, kini sudah berantakan, acak-acakan, matanya masih tertutup, memberikan aku imajinasi pemerkosaan yang lebih dramatis.
Lalu aku mengangkat kaki Bu Lingga agar lebih mudah memompanya. Ku percepat gerakanku, hingga hangat terasa karena gesekan kedua alat kelamin kami. ‘Bleps bleps blepsss…’, suara yang ditimbulkan dari cipratan air dan kelamin kami yang saling beradu.
Kali ini tidak terdengar suara rintihan Bu Lingga, mulutnya yang ku tutup dengan sapu tangan, membuat ia hanya bisa menahan gejolak dengan menggigitkan sapu tangan tersebut. Kedua tangan ku terus meremas buah dada Bu Lingga, memainkan putingnya, kutarik lalu kembali kurebahkan tubuhku turun untuk menyedoti susunya. Tak lupa kuberikan cupangan sekitar susunya, mengelilingi putingnya. Nampak bekas memerah di sekitar susunya yang putih.
Genjotanku semakin kuat dan sebentar lagi aku merasakan aku akan berejakulasi. Sensasi pemerkosaan memang membuatku lebih bernafsu, dan lebih cepat mencapai klimaks. Kurasakan aku memuncratkan sperma dari kontolku di muka Bu Lingga, dan kulihat Bu Lingga sudah orgasme berkali kali .Tampak Bu Lingga benar benar menikmati di perkosa.
TANTE LINGGA SAAT ORGASME DENGAN PEJU DI MUKANYAMUKA TANTE LINGGA BELEPOTAN PEJU

Aku mengenakan kembali pakaianku, lalu mendekati Bu Lingga, ia terlihat sudah lelah, ia tertidur pulas dengan kondisi terikat. “Thanks…”, bisikku di telinganya. Sedikit merasa lapar, aku tidak berani menelpon ke restoran, tidak enak jika pelayan datang mengantarkan makanan, jadi kuputuskan untuk turun ke bawah mencari makanan, semoga saja restoran masih buka. Tidak enak mengganggu tidurnya Bu Lingga, jadi kubiarkan ia tertidur dengan posisi terikat seperti itu.
Sepi sekali, lorong-lorong hotel tidak menampakan aktivitas, aku berjalan turun hingga ke restoran, untungnya masih buka, dan beberapa pelanggan nampak menikmati pesanannya.
Bingung mau makan apa, namun untuk mengganjal perut yang sudah keroncongan ini, aku pun menjatuhkan pilihan pada nasi goreng seafood ditambah es jeruk peras untuk menyegarkanku. Sambil menunggu aku masih memikirkan apa yang telah kuperbuat dulu, memperkosa Bu Lingga secara beramai-ramai bersama teman-temanku. Kalau dipikirkan baik-baik, kami ini sangat jahat, hanya karena sakit hati tidak diterima bekerja saja sudah buat kami mengambil langkah yang salah begitu.
Kucoba sms ke Tono, ‘Ton, dah tidur?’ tanyaku. Tidak lama dari itu ia membalas sms ku, ‘Iya man, baru aja pesta, capek ne…’, jawaban sms darinya. ‘Wah, tiap malam pesta, asik donk’, balasku. ‘Ada personil baru’, jawabnya dengan sms cukup pendek. Mungkin dia sudah terlalu capek. ‘Siapa ton?’, tanyaku. ‘Rahasia’, ia menjawab pendek lagi. ‘Gue juga ada ketemu Bu Bu Lingga, tau ga apa yg kami lakuin?’, aku memancingnya. ‘Lu garap man?’, tanya Tono. Aku lalu tidak membalasnya, aku biarkan ia penasaran, tunggu pulang barulah kuceritakan.
Pesananku akhirnya sampai, tak sabar lagi mengisi perutku yang kosong ditengah malam ini. Setelah mengisi perutku, aku masih malas naik, kuputuskan untuk nongkrong sebentar dan memesan kopi hitam untuk menemaniku. Beberapa orang berlalu lalang, ada yang sendirian, ada pula yang berpasangan. Kunikmati malam terakhir di Bali ini dengan menenggak kopi hitam yang harum ini, suasana santai seperti ini susah aku dapatkan jika pulang dari sini.
Kopi sudah habis, saatnya balik ke kamar untuk beristirahat. Berjalan pelan aku menuju kamarku, dalam perjalanan, firasatku sangat tidak menyenangkan. Aku baru ingat, aku meninggalkan Bu Lingga dengan keadaan terikat, segera sampai di depan kamar, lalu ku buka pintu. Aku kaget sekali dengan apa yang kulihat, beberapa pria sedang mengerumuni Bu Lingga. Apa yang terjadi, bagaimana mereka bisa masuk ke kamar ku, dengan gopoh aku mendorong pria-pria yang sudah telanjang bulat itu menjauh dari Bu Lingga.
“Wah… Wah… Wah… Pelit amat lu Man…”, celutuk seorang pria, suaranya sepertinya ku kenal. Setelah ku perhatikan, ternyata mereka semua aku kenal. Seperti petir menyambar di kepalaku, di kamarku ada semua pria yang berliburan bersama denganku, Rahmat, Rendy, Gayus, Bambang, Gusti, Hendra, dan Victor. “Hey! Apa yang kalian lakukan di sini?”, tanyaku pada mereka. “Pantesan aja uda gak mau gabung dengan kita, rupanya ada yang temenin…”, nyerocos si Rendy.
BUAH DADA BU LINGGAPENTIL BU LINGGA DI HISAP
Ku pandangi arah Bu Lingga, ia masih dalam keadaan terikat, tapi sudah tidak terikat pada ranjang melainkan tangan Bu Lingga terikat ke belakang dan gilanya kulihat Bu Lingga sudah berganti lingerie dengan teddies satin berwarna hitam dan stocking jaring berwarna hitam sehingga malam itu Bu Lingga benar benar seperti pelacur. Rupanya mereka menyuruh Bu Lingga berganti dengan teddies satin Bu Lingga sendiri yang di bawa Bu Lingga dan tergeletak di samping ranjang. Memang Bu Lingga biasa membawa lingerie sexy dalam melayani para lelaki penggemar seks bondage. Kali ini mata Bu Lingga diikat kembali dengan scraft satin putih dan mulutnya terikat kembali dengan scraft biru milik Bu Linga sendiri. Ku lihat ada sisa sperma di vagina Bu Lingga dan sepertinya Victor baru saja menyetubuhi Bu Lingga dan Victor sedang asik menjilati dan menghisap buah dada Bu Lingga. Memang buah dada Bu Lingga memang kecil tapi putingnya yang besar apalagi Bu Lingga sedang orgasme.. “Siapa suruh kalian masuk?!”, tanyaku. “Tak sengaja Man, gue kirain lu mati di dalam, gue panggil ga ada jawaban, jadi terpaksa gue buka pakai kunci duplikat…”, kata Victor. Iya, dia yang berkuasa di sini, semua kamar kami diboking menggunakan namanya, ia mudah saja memasuki kamar kami.
“Sekarang keluar!!”, teriakku kesal. “Tapi man…”, balas Gayus. “Oke, gue keluar…”, kata Victor yang kelihatannya dia sudah puas meniduri Bu Lingga. Namun yang lainnya tidak mau beranjak, malah memandangiku dengan serius. “Tampaknya, kawan berkhianat ne, enak sendiri aja…”, sindir Gayus.
Tiba-tiba Bambang menyerangku, lalu disusul Rendy, mereka mengeluarkan tali, lalu mengikatku. “Sorry man, terpaksa ne, uda kebelet…”, kata Gayus. Tanganku diikat ke belakang, kaki ku pun terikat menjadi satu, tidak bisa berkutik, lalu Gayus mengambil pakaian yang berserakan di lantai untuk membungkam mulutku. Aku sungguh tidak bisa bergerak, ku lihat Rahmat yang pertama naik ke ranjang untuk menikmati Bu Lingga yang sedang terikat.
Sialan sekali pikirku, orang-orang ini ternyata bejat sekali. Tapi kulihat Bu Lingga sangat menikmati perkosaan kali ini sepertinya kali ini Bu Lingga sudah terbiasa melayani pelanggan seks bondage dengan di gangbang atau seks beramai ramai bahkan yang aku tahu dari Bu Lingga Ia pernah melayani 10 orang lelaki sekaligus. Bu Lingga disetubuhi Rahmat dengan keadaan terikat tak berkutik, lingerie masih melekat badan Bu Lingga, bahkan yang lebih parah, Rahmat memperkosanya dengan menyodomi Bu Lingga. Tapi juga aku lihat lubang anus Bu Lingga sudah rusak di karenakan terlalu sering di sodomi.
PANTAT BU LINGGA SIAP DI SODOMIBU LINGGA MENIKMATI DI SODOMI
Beban yang berat bagi Bu Lingga, apalagi bila sampai Rahmat menyemprotkan spermanya di dalam. “Berapa bayaran perek ini Man?”, tanya Rahmat. Aku tidak bisa berkutik, teman-teman yang lain yang sedang menunggu giliran lalu mencari pakaian mereka yang berserakan, lalu mereka merogoh kocek pakaian mereka, ada yang mencari dompet da mengeluarkan uang mereka, “Yuk patungan, bantu Satorman bayar nih perek…”, kata Gayus sambil mengumpulkan uang. “Iya, biar sama-sama senang…”, balas yang lain.
“Bayar mahal pun ga rugi kok… Masih lezatttt…..”, kata Rahmat yang terus menggenjot Bu Lingga.
Uang mereka kumpul cukuo banyak, rata-rata adalah lembaran seratus ribu, lalu mereka sodorkan ke saku bajuku. Aku mencoba menolak, ku gerakkan tubuhku yang terikat, namun mereka tidak mau mengerti. Pikiran mereka sudah tidak jernih, hanya seks saja yang ada di otak mereka, mungkin mereka pikir Bu Lingga adalah seorang wanita bayaran.
‘Tok tok tok’, terdengar suara ketukan pintu, Rendy lalu beranjak untuk membukakan pintu. “Aku kembaliiiii………..”, seru Victor yang muncul dari balik pintu dengan membawa satu dus minuman keras. Inilah kehidupan kami di malam sebelum-sebelumnya, berpesta miras dan seks. Hanya kali ini berbeda sekali, mereka salah paham, Bu Lingga yang malang pun menjadi korban.
“Ah….”, desahan Rahmat yang terlihat mengejang, ia sepertinya sudah berejakulasi. Lalu ditarik kontolnya dari vagina Bu Lingga, dan bercucuran lah sisa-sisa sperma yang Rahmat semprotkan di dalamnya. Bu Lingga mendesah kenikmatan, namun ia hanya bisa pasrah dengan keadaannya yang terikat.
TANTE LINGGA SIAP DI PERKOSAMEMEK TANTE LINGGA
“Pak panitia duluan deh…”, seru Bambang meminta Victor menggantikan posisi Rahmat. “Iya, itung-itung ucapan terima kasih atas Guinness nya…”, sambung Gayus. Victor pun dengan penuh semangat naik ke atas ranjang. “Asyik… Putih bener ne perek…”, kata Victor setelah menindih Bu Lingga. Lalu ia mencoba mencium pipi Bu Lingga, “Hmmm, harum….”, katanya, walalupun Bu Lingga terus menggerakkan kepalanya. Victor pun lalu membuka pakaiannya, tanpa aba-aba ia pun langsung melesapkan kontolnya yang besar seperti rudal ke lubang vagina Bu Lingga.
Tubuh Bu Lingga diputar sedikit miring agar Victor mudah memompa kontolnya. Kulihat Bu Lingga sepertinya benar benar kuat di gilir oleh teman temanku. Bu Lingga sendiri berulang kali menjeri jerit tanda dirinya orgasme. Bu Lingga benar benar wanita panggilan professional seperti yang banyak aku lihat dalam film porno jepang yang bertemakan bondage. Sungguh malang nasibnya, padahal baru saja aku dekat dengannya, dan ia pun mulai tidak dendam padaku.
Lalu Gayus naik juga ke ranjang, “Numpang jilatin memek…”, ia lalu melumat vagina Bu Lingga yang bebas. Bu Lingga dikerumuni dua pria sekaligus, ia nampak lebih terbebani, pemerkosaan sadis kembali ia alami.
MEMEK TANTE LINGGAMEMEK TANTE LINGGA
Aku juga kembali teringat masa lalu yang juga telah memperlakukan Bu Lingga dengab kasar, aku dan kawan-kawan lebih sadis memperkosanya beramai-ramai, bahkan juga terhadap anak perempuannya.
Victor masih menggenjotnya, sedangkan Gayus sudah bosan menyedoti susunya, kini gantian Gusti yang menikmati susu Bu Lingga. Kulihat susunya diremas dengan kasar oleh Gusti, dicubiti putingnya dengan kuat, dan ditamparnya hingga susu Bu Lingga yang tadinya putih menjadi merah. Kembali liang vaginanya harus menampung sperma, kali ini sperma Victor yang memenuhi vaginanya. Victor mengejang dan kemudian menarik kontolnya setelah berhasil menyemprotkan spermanya di dalam.
Gusti yang tadinya melumat susu Bu Lingga langsung segera mengambil posisi Victor. Teman yang lain tidak sempat mendekat, karena jarak Gusti lebih dekat. Gusti yang sudah tak sabar mengasari Bu Lingga lalu menampar-nampar pipi Bu Lingga hingga ia terus menangis. Lalu disodoknya vagina Bu Lingga dengan kontolnya, tak mau tahu dengan vagina Bu Lingga yang penuh dengan tampungan sperma Victor dan Rahmat.
“Cantik banget…”, puji Gusti yang sedang menggenjot Bu Lingga. “Mau nyicipi rasa perek Bali…”, kata Gusti yang mengira Bu Lingga adalah orang dari daerah sini. Susu Bu Lingga pun diremas dengan kuat, lalu ditampar-tamparnya. Goyangan Gusti pun kian makin cepat, disodoknya kuat hingga kontolnya masuk penuh dalam vagina Bu Lingga.
TANTE LINGGA DENGAN GAYA 69MEMEK TANTE LINGGA DI JILATIN
Hendra mendekati mereka, seolah dia tidak mau orang lain lebih cepat merebut posisi Gusti. ‘Blep blep blep…’, bunyi hantaman yang terjadi di selangkangan Gusti dan Bu Lingga, dengab kasar menyodok seperti itu, aku rasa Bu Lingga akan kesakitan.
Sama seperti sebelumnya, Bu Lingga kembali harus menampung sperma, Gusti sudah berejakulasi, dan spermanya pun tersemprot ke dalam vagina Bu Lingga. Hendra yang sedari tadi menunggu langsung menggantikan posisi Gusti. Yang lain kesal merasa didahului lalu segera mendekati Bu Lingga. Rendy menyedoti susu Bu Lingga yang sebelah kiri dan yang sebelah kanannya menjadi maianan Gusti.
Secara beramai-ramai mereka kembali mengerumuni Bu Lingga, sudah tidak jelas apa yang kulihat karena mereka mengerumuni nya. Rahmat yang tadinya baru saja menyetubuhi Bu Lingga pun nampak sudah segar kembali dan ikut mengerumuni Bu Lingga. Berjam-jam mereka menyetubuhi Bu Lingga secara bergantian, dan tentu saja, mereka masih terus menyemprotkan sperma mereka di dalam vagina Bu Lingga. Dan sebagai bagian terakhir kali ini Bu Lingga kembali di gilir menghisap kontol teman temanku. Bu Lingga dengan nikmatnya menelan sperma mereka dan sebagian lagi di keluarkan di mulut Bu Lingga.
TANTE LINGGA NYEPONG KONTOLMULUT TANTE LINGGA PENUH DENGAN PEJU
Aku tak mampu membayangkan apa yang dipikirkan Bu Lingga, mungkin hatinya sangat sakit sekali, seorang manajer bank diperkosa oleh orang yang tidak dikenal secara brutal. Aku hanya bisa menunggu selesainya permainan mereka. “Lain kali mesti ke Bali lagi ne nampaknya…”, kata Victor yang sudah puas lalu kembali berpakaian dan meninggalkan ruangan. Begitu pula yang lainnya, mereka meninggalkan Bu Lingga yang terkapar tiada bertenaga. Hendra membantuku membukakan ikatan, “Berapa sih lu bayar perek ini man?”, katanya. Aku melototinya lalu berkata, “Dia bukan perek!!!”, teriakku. “Ah, gak perlu disembunyiin kok…”, ia lalu keluar dari ruangan tanpa mau dengar penjelasanku.
Aku mendekati Bu Lingga lalu melepaskan ikatannya, ia kali ini tidak menangis malah sepertinya terpancar wajah kepuasan menikmati di perkosa oleh teman temanku, dengan tatapan kosong ia pun mengenakan kembali pakaiannya dan keluar dari kamarku tanpa mau berbicara sepatah kata pun denganku. Aku pun tidak berani mengganggunya, aku biarkan ia berjalan lunglai kembali ke kamarnya seorang diri. Sudah subuh, aku harus segera tidur untuk beristirahat, karena hari ini terakhir aku di sini. Liburan yang sebentar namun dengan tambahan pengalaman yang cukup warna-warni.

10 thoughts on “MALAM TERAKHIR BERSAMA BU LINGGA

  1. Waduh….hehe…..apa alamat emailnya nanti gw kirim bro… tp kwalitas gambarnya nggak bagus dan kecil gambarnya …maklum video hp jadul masih vga…. mau ?

  2. Boleh dong bagi videonya. Btw koleksi foto udah update lgi ya? Dulu gagged cuma pake scarf warna ijo sekarang udah ada yang item segala. Garter belt juga ada yang warna baru. Jangan lupa kirimin videonya ya Bro. Hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s