BU INGGA DAN BU LINGGA DENGAN SATPAM JAHANAM


Peristiwa ini terjadi tiga tahun yang lalu. Kejadiannya di Jakarta, di daerah Serpong Tanggerang. Satpam kami bernama Sudin. Sebelumnya ia bekerja sebagai tukang ojek. Beberapa saat sebelum terjadi peristiwa tersebut, sebenarnya aku telah mempunyai firasat yang kurang mengenakkan mengenai Sudin. Beberapa kali aku memergoki Sudin sedang menatap dengan tajam bagian tubuh tertentu dari Ingga, jika kebetulan Ingga sedang tidak menyadarinya. Memang kadang-kadang jika berada di rumah dan sedang santai, Ingga sering mengenakan baju rumah yang cukup ketat. Apalagi setelah pembantu perempuan kami pulang ke desanya, karena ada salah satu anggota keluarganya yang sedang sakit keras,sedangkan suaminya sedang ke luar negeri kadang-kadang Ingga hanya sendirian dengan Sudin di dalam rumah . Tetapi untungnya pada malam hari Sudin tidak menginap di rumah kami. Suatu malam saat aku dan Ingga sedang bekerja di kantor yang menjadi satu dengan rumah, tiba-tiba Sudin muncul bersama dua orang temannya tukang ojek yang biasa beroperasi di sekitar daerah itu. Sudin rupanya telah lama berniat akan merampok rumah majikannya tersebut, karena hanya Lingga dan Ingga saja yang tinggal di rumah itu. Untuk melancarkan rencana tersebut, Sudin telah mengontak 2 orang temannya yang bekas sesama tukang ojek, untuk membantunya melaksanakan maksud tersebut. Pada hari dan waktu yang telah ditentukan mereka melaksanakan rencana tersebut, karena itulah mengapa tiba-tiba mereka muncul malam itu di rumah kami. Sambil mengancam dengan pisau, mereka memaksa kami untuk menunjukan barang-barang berharga dan uang yang disimpan dalam lemari. Dengan ketakutan Ingga menyerahkan barang-barang berharga milik kami seperti uang, arloji, handphone, dll. Mereka kemudian masuk ke kamar Ingga untuk mengambil perhiasan dan barang-barang berharga lainnya. LINGGA BONDAGELINGGA BONDAGE Melihat kegarangan mereka hati kami menjadi ciut. Kami berdoa dalam hati biarlah barang-barang tersebut diambil asalkan kami tetap selamat. Setelah selesai mengambil semuanya, tiba-tiba salah seorang teman Sudin berkata: “Eh, ngomong-ngomong 2 cewek ini boleh juga ya. Mending kita sikat saja sekalian.”, “Iya nih. Wajahnya cakep dan kulit mukanya putih, nggak tahu kalau bagian tubuh yang lainnya”, kata yang lain sambil memandang kakakku dengan tersenyum-senyum. “Wah, bener juga kata lu. Susunya montok tuh, ngelihatnya saja sudah bikin orang ngaceng…, kita bisa pesta nih. Mimpi apa kita semalam. Apalagi kita belum pernah ngerasain 2 amoy sekaligus. Yuk dah, kita garap rame-rame”, timpalnya lagi. Saat itu Ingga baru pulang dari kantor dan mengenakan blouse putih transparant yang cukup ketat sehingga BH putihnya, berenda jelas menerawang di balik blousenya. Sudin segera mendekati Ingga yang berdiri ketakutan di pinggir tembok. Tangannya dengan cepat meraba-raba pipi Ingga yang putih mulus, sambil ia berkata pada teman-temannya, “Cewek manis ini, namanya Ingga. Aku sendiri sebenarnya sudah lama pengen ngerasain dia. Apalagi dia suka banget pake pakaian yang bikin orang terangsang. Hari ini kita bakalan puas deh”. Dengan segera Ingga menampik tangan Sudin dan sambil menatap wajahnya dengan menguatkan hatinya, Ingga mencoba menggertak Sudin, “Kurang ajar kamu yah. Aku ini kan majikanmu, tega benar kamu hendak berbuat kurang ajar padaku!” Bukannya takut Sudin malah makin berani, sahutnya, “Aku memang kacungmu yang biasa diperintah-perintah, tapi kali ini kamulah yang akan menuruti kemauan kami”, kata Sudin. Tiba-tiba kedua tangannya dengan cepat meraih payudara Ingga dan segera meremas-remasnya dengan ganas. Ingga yang telah tersandar pada tembok, tidak dapat mengelaknya, “Adduhhhh…, jangaaann…!”, jeritnya kaget mendapat perlakuan kasar dari Sudin tersebut. Melihat itu akupun menjadi emosi, seketika kuterjang Sudin dan memukulinya. Tapi mereka kemudian mengeroyokku dan memukuliku sampai babak belur. Sementara Ingga menjerit-jerit menyaksikan aku dipukuli oleh bajingan-bajingan itu. “Kamu jangan macam-macam kalau tidak ingin kami bunuh!” hardik Sudin sambil menampar mukaku. “Jo, ikat dia. Biar dia ngeliat Kemudian mereka menyeretku ke kamar Ingga dan mengikatku di kursi dekat ranjangnya.Mereka mengikat tangan Lingga kebelakang kursi begitu juga kakinya di ikat pada masing masing kaki kursi sehingga kaki Lingga mengangkang sehingga celana dalamnya terlihat. OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERABahkan mulut Lingga di sumpal dengan celana dalam Ingga yang berserakan di lantai karena lemarinya di bongkar mereka. Setelah itu mereka menggotong Ingga yang terus memberontak, kedalam kamarnya dan melemparnya ke atas tempat tidurnya. “Ingga, dengar baik-baik, kalian akan kuampuni kalau kamu mau menuruti kemauan kami. Kalau kamu melawan, adikmu akan kubunuh dan kau pun akan kubunuh setelah kami puas menikmatimu. Saat ini tidak ada yang dapat menolong kalian”, kata Sudin. Sementara karena ketakutan diancam hendak dibunuh, akhirnya Ingga dan pasrah dengan nasibnya.Mereka mengikat tangan Ingga ke belakang, mulut Ingga juga disumpal dengan celana dalam dan di ikat dengan stocking. Segera dengan tidak membuang-buang waktu mereka langsung mendekati Ingga terikat,telentang tdk berdaya di atas tempat tidur dan mulai mengerubutinya. Sudin langsung mencium muka Ingga, mula-mula hidung dan pipinya dijilat-jilatnya, seakan-akan sedang menikmati betapa licin dan mulusnya pipi Ingga tersebut, Ingga sendiri pasrah karena mulutnya disumpal. Sementara kedua tangannya tidak tinggal diam, dengan nafsu meraba-raba buah dada yang mulus padat itu, kemudian meremas-remasnya dengan sangat bernafsu. Dari mulut Ingga hanya terdengar jeritan lirih, “Mmmm…., aaggghhh…, jaangaannn…, jannngaannn…, aaammmpunnnnn…, aammmppunnnnnn…!”, “…Jaaanngaaannn…, peerrkoossssaaaa…, saaayyaaaaa…!”, tetapi tdk jelas karena mulut Ingga tersumpal, akan tetapi sambil tertawa-tawa Sudin berkata, “Tenang saja, nanti juga lo akan merasa keenakan, niiihhhh…, gimana rasanya, enak khan pijitanku. Susumu benar-benar nikmat”, katanya sementara aktifitas kedua tangannya tetap masih meremas-remas payudara Ingga. OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERABadan Ingga menggeliat-geliat, tapi Ingga tidak dapat menghindar karena kedua tangan Ingga terikat kebelakang sedangkan teman Sudin masing-masing memegang kaki dan tangannya erat-erat sambil tertawa-tawa. Lalu mereka tidak mau kalah dengan Sudin, salah seorang di antaranya yang memegang kedua kaki Ingga, langsung menyingkap dan menarik lepas rok Ingga, sehingga terlihat celana dalam putih, kecil, transparant, berenda dan kedua belah paha Ingga yang putih mulus memakai stocking coklat muda dan sepatu hitam hak tinggi. Kemudian sambil menduduki kedua kaki Ingga, kedua tangan orang tersebut segera mengelus-elus kedua paha Ingga yang sudah setengah terpentang itu dengan bebas. Tangannya mula-mula hanya bermain-main di kedua paha, naik turun, tapi akhirnya secara perlahan-lahan mulai mengelus-ngelus vagina Ingga yang masih tertutup celana dalam Ingga. OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERA Tidak cukup sampai di situ, bahkan salah satu jari tengahnya dimasukan ke celana dalam Ingga dan dipaksakan masuk kedalam kemaluan Ingga yang masih sangat rapat itu. Badan Ingga hanya bisa menggeliat-geliat saja dan pantatnya bergerak menggeser ke kiri ke kanan mencoba menghindari tangan-tangan yang menggerayangi paha dan kemaluannya itu. Dari mulutnya tetap terdengar jeritan”, MmmPh…..,Jaaangannnn…, jjannngann…, aadduuhhh…, aaddduhhhhh….!” dan dari kedua matanya mengalir air mata putus asa, kepalanya digeleng-gelengkan ke kiri ke kanan, menahan rasa geli yang mulai merambat ke seluruh tubuhnya. Secara perlahan-lahan pada bagian CD-nya yang menutupi belahan liang kewanitaannya mulai terlihat membasah. Rupanya tubuh Ingga tidak dapat menyembunyikan reaksinya atas perasaan terangsangnya menerima perlakuan tersebut. Dengan kedua tangan yang terikat kebelakang dan kedua kaki diduduki dan di saat bersamaan mulutnya dilumat-lumat dengan ganas dan buah dadanya diremas-remas, serta elusan-elusan disertai sentuhan-sentuhan jari pada klitorisnya, membuat suatu sensasi yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, tiba-tiba melanda perasaan Ingga, perasaan putus asa, perasaan terhina dan ketidakberdayaan secara bersamaan menimbulkan suatu penyerahan dan kepasrahan total yang mengakibatkan suatu kenikmatan yang maha dahsyat melanda perasaan dan tubuh Ingga. Sungguh menyakitkan memang menyaksikan peristiwa itu. Dimana sebuah tubuh putih mulus dan cantik, sedang telentang lemas tanpa daya dikerubuti oleh tiga lelaki kasar sopir dan tukang ojek yang bertubuh hitam tidak terawat dengan tangan-tangan yang berkeliaran kemana-mana, benar-benar terlihat sangat kontras. Akhirnya Sudin menyobek blouse yang dikenakan Ingga, sehingga sekarang Ingga hanya mengenakan BH dan celana dalam saja. Sudin meraba-raba dan mengelus-elus buah dada Ingga yang masih tertutup BH-nya sambil berkata, “Wah penasaran nih pingin lihat susunya amoy”. katanya sambil tersenyum-senyum. Kemudian dengan perlahan-lahan Sudin menguakan BH Ingga. Dan dengan terpesona mereka menatap payudara Ingga yang sangat indah itu. Buah dada Ingga putih mulus, tidak terlalu besar, masih sangat kencang berdiri tegak dengan ujung putingnya yang coklat muda kecil, tapi terlihat sudah mengeras karena dielus-elus dari tadi. “Wah susu amoy sangat bagus ya!” kata salah seorang dari mereka sementara kedua tangannya mengusap-usap payudara Ingga dengan perlahan-lahan seakan-akan terpesona, karena baru sekarang dia pernah melihat buah dada indah, yang sedemikian putih dan halus itu. “Wah putingnya coklat muda. Bikin tambah nafsu saja”, kata yang lain. “Coba lihat ukuran BH-nya, eh BH-nya Bra Talk ukurannya 34 b”, kata salah seorang dari mereka. Kemudian ganti Sudin yang meraba-raba dan meremas-remas perlahan buah dada Ingga. Yang seorang lagi yang dari tadi duduk pada kedua kaki Ingga, tidak mau kalah juga, segera saja stocking dan CD putih Ingga ditarik saja tanpa di buka karena Ingga memakai CD gstring yg kecil , terkapar tak berdaya dengan tangan-tangan hitam kasar mirip tangan-tangan gurita yang sedang menggerayangi lekuk-lekuk tubuh yang molek itu. OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERA Pada bagian bawah tubuh Ingga yang membukit kecil di antara kedua pahanya yang putih mulus itu, kemaluannya yang kecil berbentuk garis memanjang yang menggelembung pada kedua pinggirnya, tampak ditutupi oleh bulu kemaluannya yang lebat yang berwarna coklat muda. “Hehehe, lihat tuh jembutnya lebat sekali. Aku suka sama cewek yang satu ini”. Kemudian teman Sudin langsung meraba-raba dan mengelus-elus bulu kemaluannya sambil membuka kedua paha Ingga makin melebar. Terlihatlah liang vaginanya yang masih rapat. Tangan hitam dan kasar itu segera menjamah liang yang sempit itu sambil menggesek-gesekan jempolnya pada tonjolan daging kecil yang terletak di bagian atasnya. Sementara puting susu Ingga sedang diisap-isap oleh Sudin dengan lahapnya sambil sesekali mempermainkan putingnya dengan ujung lidahnya. Sedangkan temannya yang satu lagi, membuka sumpalan mulut Ingga, Langsung melumat mulut dan kedua bibir Ingga dengan rakus dan lidahnya dengan paksa dimasukkan ke dalam mulut Ingga dan mempermainkan lidah Ingga. Mendapat perlakuan seperti itu, Ingga yang benar-benar telah tak berdaya, hanya bisa menggeliat-geliat dan mendesis lirih, “Aaaghhh…, sshhhhh…, sshhhhh…, mmhhhh….!”. Kemudian salah seorang dari mereka berkata kepada Sudin, “Din, kamu mulai duluan aja yah…!”, “OK…” kata Sudin dengan cepat dan segera menghentikan kegiatannya untuk membuka baju sampai celana dalamnya. Tampaklah batang kemaluannya yang telah tegang, berwarna hitam pekat, besar dengan bagian kepalanya yang bulat mengkilat dan bagian batangnya yang dikelilingi oleh urat-urat menonjol, terlihat sangat mengerikan. Setelah selesai melepaskan seluruh bajunya, dengan cepat Sudin kembali naik ke tempat tidur dan merangkak di atas badan Ingga. Sudin berjongkok di antara kedua paha Ingga, yang dengan paksa dibuka melebar oleh teman Sudin yang memegang kedua kaki Ingga. Mata Ingga terlihat terbelalak melihat benda hitam besar di antara kedua paha Sudin itu. Badan Ingga terlihat bergetar halus, rupanya belum-belum Ingga telah merasa ngilu pada kemaluannya membayangkan benda hitam besar itu nantinya akan mengaduk-aduk kemaluannya dengan ganas. Dengan sebelah tangan bertumpu pada ranjang di samping badan Ingga, tangan Sudin yang satunya memegang batang penisnya dan dengan perlahan-lahan digosok-gosokkannya pada bibir kemaluan Ingga. Begitu kepala penis Sudin menyentuh klitoris Ingga, terlihat badan Ingga menjadi kejang dan agak berkelejotan serta dari mulutnya yang sedang dilumat oleh teman Sudin terdengar suara, “Eeehhmm…”, Sudin terus melakukan kegiatannya menggesek-gesek kepala penis pada bibir kemaluan Ingga, yang akhirnya menjadi licin dan basah oleh cairan yang keluar dari penis Sudin dan juga dari dalam kemaluan Ingga sendiri. Merasakan bibir kemaluan Ingga yang telah basah itu, Sudin berkata, “Oohhhh rupanya lo udah terangsang juga yaaa..!” Kemudian dengan perlahan-lahan Sudin mulai menekan kepala penisnya membelah bibir kemaluan Ingga. Mendapat tekanan dari kepala penis Sudin, bibir kemaluan Ingga tertekan ke bawah dan mulai terbuka dan karena kemaluan Ingga telah basah, akhirnya kepala penis Sudin mulai terbenam ke dalam lubang kewanitaan Ingga dengan mudahnya. OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERADisebabkan penis Sudin yang sangat besar, maka klitoris Ingga ikut tertarik masuk kedalam lubang kemaluannya dan terjepit oleh batang penis Sudin yang berurat menonjol itu. Hal ini menimbulkan perasaan geli dan sekaligus nikmat yang amat sangat pada diri Ingga, sehingga disertai badannya yang menggeliat-geliat, dengan tanpa sadar dari mulutnya terdengar suara, “Ooohhhhhh…”, yang panjang, mengikuti tekanan penis Sudin pada kemaluannya. Kedua pahanya terlihat mengejang dengan kuat. Merasakan hal ini, tanpa menyia-nyiakan waktu Sudin langsung menekan habis rudalnya ke dalam vagina Ingga dengan ganas. “Aadduuuhh…, sakiittt…!”, terdengar Ingga menjerit saat rudal Sudin itu menerobos masuk ke dalam liang vagina Ingga. Kemudian Sudin segera mendorong dengan sekuat tenaga sehingga seluruh barang miliknya amblas seluruhnya, sampai kedua pahanya yang hitam itu menekan dengan ketat paha putih mulus Ingga yang terkangkang itu. Ketika penis Sudin menerobos masuk, meski kemaluan Ingga telah sangat basah, akan tetapi tetap saja Ingga merasa pedih. Tanpa mengenal belas kasihan, Sudin mulai memaju-mundurkan pantatnya, sehingga penisnya yang besar itu, keluar masuk berulang-ulang kedalam kemaluan Ingga. Sambil melakukan itu ia berkata, “Waahh, eenaak niih masih seret…!” Sementara kedua temannya tetap sibuk mengelus-elus dan meremas-remas payudara serta membelai-belai seluruh badan Ingga, sambil tertawa-tawa mendengar perkataan Sudin. OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERASementara itu terlihat vagina Ingga memerah menerima tekanan dan gesekan-gesekan dari penis Sudin yang besar itu. “Waaah…, gila sempit benar niihhh, mimpi apa aku semalam”, kata Sudin. Sambil terus menyetubuhi Ingga dengan ganas, Sudin berkata lagi, “Hey non.., enak sekali lhhhoo, benar-benar puas aku atas servismu ini.., ha.., ha.., ha..!” Sambil tertawa-tawa dia mengocok tubuh Ingga habis-habisan. Sementara Ingga hanya bisa merintih-rintih dan menjerit-jerit tak berdaya karena terikat tangannya. Suara jeritannya makin lama makin lemah, diganti oleh suara mendengus-dengus, “Oohh…, oohhh…, aadduhh…, aadduuhh…!”, dan badan Ingga tiba-tiba mengejang dengan hebat sehingga bagian pinggangnya tertekuk ke atas, rupanya tanpa dapat dicegahnya, Ingga mengalami orgasme dengan hebat, ada beberapa detik lamanya badannya tersentak-sentak dan akhirnya Ingga terkulai dengan lemas dengan kedua kakinya terkangkang lebar. Benar-benar Ingga mengalami kenikmatan yang hebat yang tidak terelakkan walaupun sebenarnya itu bertentangan dengan kemauannya, membuat pikirannya serasa melayang-layang. OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERASekarang Sudin memegang kedua pinggul Ingga dan menariknya keatas, sehingga pantat Ingga tidak terletak pada kasur lagi. Dengan posisi ini Sudin dengan leluasa menancapkan penisnya dalam-dalam ke lubang kemaluan Ingga dengan tanpa halangan. Sambil pantatnya dimajumundurkan, sekali-sekali Sudin menekan pantat Ingga rapat-rapat ke tubuhnya dan memutar-mutar pinggul Ingga, sehingga kemaluan Ingga mengocok-ngocok penis Sudin yang terbenam habis di dalamnya. Terlihat bahwa tubuh Ingga menggeliat-geliat dan bergerak-gerak mengikuti gerakan Sudin. Dan saking kerasnya dorongan pantat Sudin menekan pinggul Ingga, kedua payudara Ingga mengikuti goyangan tersebut dengan bergerak-gerak berputar-putar. Sementara mulut Ingga mendesah setiap kali Sudin menekan penisnya dalam-dalam ke lubang kemaluannya. “He.., he.., he.., akhirnya lo takluk juga yaa? Kalau nggak gini kan kamu nggak tahu enaknya yang sebenarnya!” kata Sudin tanpa berusaha menghentikan aktifitasnya. Kedua teman Sudin menyaksikan hal tersebut sambil tertawa-tawa. “Lihat susunya berputar-putar”, katanya. Kemudian akhirnya mereka semua menanggalkan pakaiannya masing-masing sehingga akhirnya keempat orang di ranjang tersebut semuanya telanjang bulat. Tubuh Ingga yang putih mulus tersebut tampak kontras dengan tubuh hitam ketiga lelaki yang sedang menggumulinya. OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERA Sementara Sudin menikmati kemaluan Ingga sambil meremas-remas kedua payudaranya, yang lainnya juga ikut menggesek-gesekkan penisnya pada tubuh Ingga. Bahkan salah seorang di antaranya memasukkan penisnya ke mulut Ingga, memaksa Ingga untuk melakukan oral sex. Pada saat yang bersamaan, Sudin memerintahkan Ingga untuk melakukan pijit ala Thai yaitu memijat dengan kedua payudaranya. Ingga yang telah takluk dan pasrah itu,dengan tangan terikat kebelakang hanya bisa menuruti kemauannya dengan menekan dan menggesek-gesek susunya ke seluruh tubuh Sudin. Sambil tertawa puas Sudin berkata, “Wah, baru kali ini aku ngerasain dipijat sama susu amoy. Rasanya lebih enak daripada di Kramat Tunggak”. Tak lama kemudian Sudin mengalami ejakulasi dan menumpahkan seluruh spermanya ke dalam vagina Ingga. Tampak ia terengah-engah. Setelah itu giliran rekan Sudin satunya, Jo yang merasakan vagina Ingga. Mula-mula ia melakukannya dalam posisi Ingga terduduk lalu dalam posisi doggy style. Sambil melakukannya ia menepuk-nepuk payudara Ingga yang bergerak-gerak. Sementara ia melakukan itu, teman satunya yang berambut Gondrong berada di depan Ingga, memaksanya untuk memasukkan penisnya ke dalam mulut Ingga, sehingga akhirnya Ingga terpaksa mengulum penisnya. Goyangan orang yang di belakang menggerakkan seluruh tubuh Ingga sehingga si Gondrong di depan jadi merem melek nikmat karena penisnya dikocok oleh mulut Ingga. Selang sesaat mereka berganti posisi, si Gondrong yang mulanya dikulum sekarang berganti menikmati vagina Ingga sementara Jo dikulum penisnya. Setelah itu ia berdiri dan menyuruh Ingga untuk berlutut di depannya dan memasukkan penisnya ke dalam mulut Ingga. OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERAIngga diperintahkan mengulum dan menjilati penisnya seolah-olah seperti permen lolipop. Ketika Ingga melakukannya, ia berkacak pinggang dan tertawa-tawa. Sementara itu si Gondrong asyik meraba-raba dan menggesek-gesek klitoris dan bibir vagina Ingga, sehingga hal ini membuat badan Ingga menggelinjang-gelinjang dan dari mulutnya yang tersumbat penis Jo, terdengar erangan tertahan, “Eehhmm…, eehhhmmm..”, setelah itu kedua tangan Jo yang semula berkacak pinggang, mulai meremas-remas buah dada Ingga yang tergantung bebas itu. Setelah puas dengan permainan itu, kemudian mereka menelentangkan Ingga di atas ranjang dan lelaki yang Gondrong menggesek-gesekkan penisnya ke buah dada Ingga dan kemudian dia menduduki dada Ingga dan menjepitkan penisnya diantara kedua gundukan daging kenyal tersebut, sambil mendorong pantatnya maju mundur, sehingga penisnya menggesek-gesek di antara kedua gundukan buah dada Ingga tersebut. OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERAKemudian mereka berganti posisi lagi. Kali ini giliran si Gondrong yang memasukkan penisnya ke dalam vagina Ingga. Ia melakukannya pada Ingga yang dalam posisi tidur miring. Sementara itu Jo bersimpuh di depan wajah Ingga dan lagi-lagi memasukkan penisnya ke dalam mulut Ingga. Kemudian ganti Jo yang memasukkan barangnya ke dalam kemaluan Ingga. Pada saat akan ejakulasi, ia mengeluarkan penisnya dan memuncratkan air maninya di payudara Ingga. Si Gondrong berkata, “Eh, sialan lu padahal gua mau ngemut susunya. Eh lu semprot dengan peju lu”. Mendengar itu, mereka semua pada tertawa. Setelah itu Jo ‘meratakan’ spermanya ke seluruh bagian dada Ingga, sehingga tubuh Ingga menjadi basah mengkilap oleh spemanya. Akhirnya kembali si Gondrong yang menikmati Ingga. Ia melakukannya dalam posisi duduk sementara Ingga telentang di depannya. Ia merentangkan kedua paha Ingga lebar-lebar dan memegangi pinggulnya sementara ia memasukkan penisnya ke dalam kemaluan Ingga. Setelah itu ia memasukkan penisnya ke mulut Ingga yang duduk di depannya. Pada saat akan ejakulasi, ia menyemprotkan air maninya ke muka dan rambut Ingga dan melapnya ke seluruh bagian muka Ingga. Kemudian ia menyuruh Ingga untuk menjilati sisa sperma di batang penisnya sampai bersih. OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERA Setelah itu kembali Sudin meminta Ingga mengulum penisnya sampai ia mengalami ejakulasi kedua. Pada saat ejakulasi, ia menumpahkan seluruh spermanya di dalam mulut Ingga, sehingga Ingga terpaksa menelan seluruh sperma yang dikeluarkannya. Setelah itu Sudin memerintahkan Ingga menjilati sisa sperma di penisnya sampai licin mengkilat. Dengan demikian maka akhirnya puaslah sudah ketiga laki-laki bejat tersebut menikmati tubuh mulus Ingga. Sambil tertawa-tawa si Gondrong berkata, “Kita puas deh hari ini. Kamu memang dapat memuaskan laki-laki. Kami semua senang bisa menikmati kamu”, “Kamu tentunya puas juga khan merasakan nikmatnya kontol-kontol kami. Gimana rasanya, enak khan dinikmati oleh supir dan tukang ojek..!”, kata Sudin. “Gila nih cewek. Cakep-cakep gini ternyata suka nenggak peju”, timpal Jo. Mereka semua tertawa mendengar perkataan Jo. “Ayo ah kita cabut. Kita udah puas nih. Terima kasih ya atas barang-barangnya serta ‘bonus istimewanya'”, kata Sudin. Setelah puas akhirnya mereka membawa barang-barang jarahannya dan meninggalkan Ingga dalam keadaan lemas, tangan terikat kebelakang, BH , celana dalam dan stocking yg terbuka serta menangis terisak-isak. Masih terlihat bekas cairan air mani belepotan di seprei. Sejak saat itu Sudin dan kawan-kawannya menghilang dari daerah itu. Untunglah Ingga orangnya cukup tegar. Setelah menjalani terapi dengan dokter ahli, Ingga akhirnya secara perlahan-lahan dapat sembuh dan dapat melupakan peristiwa tragis itu. TAMAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s